Wisata Sejarah Banten, Cantik namun Terpuruk

Pasti ada yang bertanya, apa kerennya wisata sejarah Banten.  Jarang sekali orang menyebut Banten dengan wisata sejarahnya.  Banten identik dengan pantainya yang cantik, Gunung Krakatau yang fenomenal ataupun Ujung Kulon dengan seluruh keunikannya.  Tidak pernah terbersit untuk mengunjungi peninggalan sejarahnya.

Dalam goresan sejarah, Banten pernah berjaya karena letaknya yang strategis.  Kapal-kapal para pedagang melewati wilayah ini dan menjadikannya pelabuhan terbesar di Indonesia.  Kesultanan Banten yang mengatur wilayah ini merupakan kerajaan maritim yang mengandalkan perdagangan untuk menopang perekonomiannya.   Banten menjadi jalur niaga bagi pedagang dari negara lain seperti Persia, India, Cina, Vietnam, Filipina, dan Jepang.  Karena kuatnya pengaruh Kesultanan Banten, VOC pernah melakukan blokade perdagangan.  Namun, dengan cerdiknya, Kesultanan Banten menjalin koalisi perdagangan dengan negara Eropa lain seperti Denmark, Inggris dan Perancis yang menjadi musuh Belanda saat itu.  Kesultanan Banten memegang peran penting dalam roda perekonomian terutama untuk perdagangan lada.

Sama seperti keruntuhan kerajaan di Indonesia, Kesultanan Banten jatuh karena Belanda mengadu domba putra Sultan Ageng Tirtayasa yang ingin berkuasa, yaitu Sultan Haji.  Politik adu domba itu melahirkan pertikaian saudara yang secara perlahan memudarkan kejayaan Kesultanan Banten dan akhirnya kalah.  Kesultanan Banten resmi dihapus pada 1813 oleh pemerintah Kolonial Inggris dengan memaksa Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin turun dari tahta.

Menara Masjid Agung Banten, Lambang Kejayaan

Wisata sejarah Banten mengingatkan bahwa Banten memang pernah berjaya. Sayangnya, sisa-sisa kejayaan tersebut tak nampak di kawasan Banten Lama dimana Kerajaan Kesultanan Banten yaitu Surosowan pernah membangun kekuasaannya.  Satu-satunya yang tampak masih berdiri menjulang Berjaya adalah Menara Masjid Agung Banten.

Menara ini dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin, anak pertama dari Sunan Gunung Jati yang juga sultan pertama Kerajaan Banten.  Seorang arsitek Belanda yaitu Hendrik Lucazoon Cardeel yang merancang menara yang berfungsi untuk mengumandangkan adzan sekaligus mengawasi perairan laut serta untuk menyimpan senjata.  Cardeel kemudian dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna

Menara Masjid Agung Banten (bungakrisan)
Menara Masjid Agung Banten yang pernah menjadi simbol kejayaan Banten.  Wisata sejarah Banten dimulai di titik ini (bungakrisan)

Butuh sedikit usaha untuk menemukan menara ini karena pandangan kita tertutup oleh warung-warung tenda yang menjual suvenir, makanan serta air doa yang tersebar tak tertata.  Selain warung-warung tenda tersebut, pemandangan sampah yang berserakan dimana-mana dapat kita lihat di sekitar Masjid Agung.  Tempat ini juga sangat ramai dengan orang-orang yang berziarah ke makam-makam para leluhur.

Para penjual air doa dan air mineral (bungakrisan)
Para penjual air doa dan air mineral (bungakrisan)
Informasi mengenai Menara Masjid Agung Banten yang jarang dilirik wisatawan (bungakrisan)

Wisatawan dapat naik ke menara yang tingginya 24m ini dengan menapaki 83 anak tangga untuk sampai ke puncak.  Tangganya hanya cukup untuk menampung satu orang saja, sehingga, harus diatur yang naik dan yang turun agar tidak bertabrakan.  Kapasitasnya juga tidak banyak menampung pengunjung sehingga petugas terkadang berbohong mengatakan bahwa menara ini akan ditutup dan dibuka beberapa saat kemudian.  Hal tersebut dilakukan agar pengunjung yang di dalam segera keluar untuk bergantian dengan yang akan masuk.  Menara ini tidak memiliki loket khusus yang menjual tiket masuk.  Tetapi, ada tiga pintu sampai dengan puncak yang ditunggu beberapa pemuda yang meminta uang masuk.

Pintu masuk Menara Masjid Agung Banten (bungakrisan)
Pintu masuk Menara Masjid Agung Banten.  Di dalamnya sudah menunggu para pemuda yang meminta uang tiket masuk (bungakrisan)

Setibanya di puncak, kita dapat melihat bagaimana strategisnya Banten secara geografis.  Dari atas menara ini, tampak dengan jelas lautan dan kapal-kapal yang melintas.   Terlihat pula gunung-gunung cantik yang mengelilingi Banten serta keadaan di wilayah sekitar Banten lama.  Jika kita merunduk ke bawah, kita dapat melihat puing-puing di sekitar menara.  Tidak diketahui persis darimana puing-puing itu berasal.

Terdapat dua balkon di menara yang juga bekas tempat penyimpanan senjata (bungakrisan)
Terdapat dua balkon di menara yang juga bekas tempat penyimpanan senjata (bungakrisan)
Puing-puing yang berserakan di sekitar menara (bungakrisan)
Puing-puing yang berserakan di sekitar menara (bungakrisan)

Tampak pula atap Masjid Agung Banten yang khas dengan bangunan utama yang bertumpuk lima.  Arsitek dari masjid ini adalah Tjek Ban Tjut dari Cina yang merancang atapnya mirip pagoda Cina.  Atap masjid ini sangat menggambarkan lekatnya kehidupan antar etnis dan keyakinan Banten kala itu.   Sedikit berjalan ke belakang masjid, kita akan jumpai Museum yang menyimpan beberapa barang yang diangkut dari situs peninggalan Kesultanan Banten.

Jejak Ahlinya Tata Kelola Air

Sultan Ageng Tirtayasa yang pernah menjadi Sultan Banten pada 1651-1683 adalah seorang arsitek tata kota dan ahli dalam bidang tata kelola air.  Ia menciptakan sistem transportasi laut untuk mengangkut barang-barang dari pelabuhan Banten dengan kapal-kapal yang lebih kecil.  Di dekat Masjid Agung, terdapat jembatan rantai yaitu tempat pengambilan dan penghitungan pajak dari kapal-kapal yang masuk.  Memang agak sulit menemukan jembatan ini karena papan informasinya yang rusak dan nyaris tidak terlihat.  Saat ini, sungai dan kanal-kanal yang dibangun Sultan Ageng Tirtayasa beralih menjadi transportasi bagi sampah-sampah yang luar biasa banyaknya di sekitar wilayah Banten lama.

Jembatan rantai untuk mengambil pajak kapal-kapal yang mengangkut barang dagangan (bungakrisan)
Jembatan rantai untuk mengambil pajak kapal-kapal yang mengangkut barang dagangan (bungakrisan)
Sistem transportasi air yang terintegrasi (bungakrisan)
Sistem transportasi air yang terintegrasi (bungakrisan)
Kanal-kanal air (bungakrisan)
Kanal-kanal air (bungakrisan)
Gundukan sampah terlihat di pinggir-pinggir sungai (bungakrisan)
Gundukan sampah terlihat di pinggir-pinggir sungai (bungakrisan)

Sultan juga mendorong rakyatnya untuk bertani dan membantu pengairan sawah para petani dengan membuat sistem saluran irigasi.  Saluran ini juga dimanfaatkan sebagai sarana jalan dari satu desa ke desa lainnya.  Dapat kita lihat sekarang sungai-sungai kecil bekas saluran irigasi ini dimanfaatkan warga untuk memancing ikan.

Aliran sungai-sungai buatan (bungakrisan)
Aliran sungai-sungai buatan (bungakrisan)

Meratap di Benteng Speekwijk dan Keraton Surosowan 

Seakan tak percaya bahwa kedua bangunan yang tak utuh ini adalah situs sejarah.  Sebagian temboknya penuh dengan tulisan-tulisan vandal yang menyedihkan.  Di pojok-pojok bangunan tampak anak-anak muda bercanda. Bangunan ini, terutama Benteng Speekwijk digunakan anak-anak muda menjadi tempat tongkrongan. Bahkah, terdapat gawang untuk bermain sepak bola di tengah-tengah Benteng Speelwijk.  Beberapa pengunjung yang juga ingin melakukan wisata sejarah Banten nampak bingung harus memulai perjalanan kunjungan ke benteng ini.

Sisa bangunan yang jadi tempat "menggambar" orang-orang tak bertanggung jawab (bungakrisan)
Sisa bangunan yang jadi tempat “menggambar” orang-orang tak bertanggung jawab (bungakrisan)
Peringatan bahwa merusak cagar budaya dapat dikenai ancaman tak juga digubris oleh pelaku vandal (bungakrisan)
Peringatan bahwa merusak cagar budaya dapat dikenai ancaman tak juga digubris oleh pelaku vandal (bungakrisan)
Gawang sepak bola di tengah benteng (bungakrisan)
Gawang sepak bola di tengah benteng (bungakrisan)
Menjadi tempat tongkrongan anak-anak muda (bungakrisan)
Menjadi tempat tongkrongan anak-anak muda (bungakrisan)

Di belakang Benteng Speekwijk terdapat beberapa makam dengan dengan bentuk khas Eropa.  Nama yang ada di makan mulai pudar dan tidak jelas.  Terlihat kambing-kambing sedang mencari rumput di sekitar makam.  Tak ada keterangan pasti ini makam siapa.  Bahkan, jika kita tidak perhatikan dengan seksama,  bangunan tersebut tak nampak seperti makam karena rusak dan tidak terawat.

Bangunan makam yang tak jelas identitasnya (bungakrisan)
Bangunan makam yang tidak jelas identitasnya (bungakrisan)

Ada ruang bawah tanah yang sepertinya digunakan untuk penyimpanan senjata dan juga kamar tahanan.  Jika kita masuk, di dalamnya gelap dan bau sangat pesing dengan sampah yang tercecer disana sini.  Masih terlihat bangunan yang terkena bom dan bekas peluru di tembok-temboknya.  Memang, benteng ini didirikan pada 1682 untuk mengontrol segala kegiatan Kesultanan Banten dan juga tempat berlindung bagi pasukan Belanda.

Ruangan di dalam benteng yang penuh dengan sampah, gelap dan bau pesing (bungakrisan)
Ruangan di dalam benteng yang penuh dengan sampah, gelap dan bau pesing (bungakrisan)
Para pengunjung yang senang sekali menaiki dan susur bangunan benteng (bungakrisan)
Anak-anak muda sangat senang berjalan-jalan di atas tembok menyusuri bangunan benteng (bungakrisan)

Keraton Surowosan juga tak kalah memprihatinkan.  Pintu untuk masuk bangunan ini tampak digembok, namun terlihat beberapa orang naik melalui tembok untuk main ke dalamnya.  Keraton ini dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanudin dengan luas 3,8 hektar.  Kabarnya, masih ada Pancuran Mas yang terbuat dari tembaga untuk mandi para pejabat dan juga abdi kerajaan.  Keraton Surowosan ini telah tiga kali dibangun karena hancur akibat perang.  Pada 1808, Keraton ini dihancurkan oleh Dendels dan tidak pernah pulih.

Keraton Surowosan yang tak kalah memprihatinkan (bungakrisan)
Keraton Surowosan yang tak kalah memprihatinkan (bungakrisan)

Keraton Kaibon yang Terserak

Awal ketertarikan saya mengunjungi situs di Banten ini karena melihat foto di Facebook seorang teman yang menghadiri pernikahan kerabatnya di Keraton Kaibon.  Karena penasaran bahwa Banten punya cerita sejarah, maka wisata sejarah Banten inilah dilakukan.  Walaupun sedikit lebih teratur, Keraton Kaibon juga mengalami situasi yang sama dengan situs lain.  Lagi-lagi, tangan-tangan orang yang tak bertanggung jawab menggambar berbagai macam tulisan di tembok-temboknya.
Keraton ini dulunya dibangun oleh Sultan Banten ke-21, yaitu Sultan Syaifudin untuk ibunya Ratu Aisyah. Sisa bangunan keraton ini kerap digunakan  pasangan yang akan menikah untuk melakukan foto pre-wedding.
Situs ini menjadi latar belakang foto pre-wedding (bungakrisan)
Situs ini menjadi latar belakang foto pre-wedding (bungakrisan)
Keraton ini memang tinggal puing dan fondasinya karena dihancurkan oleh pemerintah Hindia-Belanda bersamaan dengan Keraton Surowosan.  Belanda marah karena utusan Dandels dipancung oleh Sultan Syaifiudin.  Konon, Sultan Haji juga meninggal disini setelah depresi yang berat atas rasa bersalahnya mengkhianati ayah dan saudaranya.
Beberapa bagian bangunan seperti pintu dan gerbang masih terlihat utuh.    Terdapat ruangan yang diduga kamar Ratu Aisyah.  Lantainya dibuat menjorok ke bawah dan diisi air sebagai pendingin ruangan.
Pintu dan gerbang yang tampak utuh (bungakrisan)
Pintu dan gerbang yang tampak utuh (bungakrisan)
Wisata sejarah Banten yang penuh dengan cerita kejayaan (bungakrisan)
Wisata sejarah Banten yang penuh dengan cerita kejayaan (bungakrisan)
Vihara Avalokitesvara, Lambang Toleransi
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Vihara Avalokitesvara yang ukirannya detail dan kondisinya sangat bersih(bungakrisan)
Satu-satunya yang melegakan dalam perjalanan wisata sejarah Banten ini adalah Vihara Avalokitesvara yang bersih, indah dan terawat.  Vihara ini punya makna besar karena  dibangun oleh Sultan Syarief Hidayatullah untuk menghormati perantau dari Cinta.  Sultan Syarief Hidayatullah sendiri menikahi seorang putri Tiongkok.  Awalnya, ayah dari Sultan Syarief Hidayatullah yaitu Sunan Gunung Jati yang melihat banyaknya perantau dari Cina membutuhkan tempat ibadah.  Maka, dibangunlah vihara ini yang namanya diambil dari nama seorang Budha dan merupakan salah satu vihara tertua di Indonesia.
Bentuk toleransi dan harmoni perbedaan agama, ras dan keyakinan tampak terlihat sampai sekarang.  Vihara ini terbuka menerima tamu yang berbeda-beda keyakinan.
(bungakrisan)
Banyak yang berkunjung untuk berdoa (bungakrisan)

(bungakrisan)

 

(bungakrisan)
 

(bungakrisan)

(bungakrisan)
 
(bungakrisan)
 
Menjaga Kejayaan Banten, Tugas Kita Semua
Di negara lain, sejarah merupakan elemen penting yang membentuk masyarakatnya saat ini.  Jika kita berkunjung ke Eropa misalnya, bangunan-bangunan lama dilestarikan keberadaannya untuk memperlihatkan identitas bangsanya.  Di Korea Selatan, pemerintahnya berusaha membangun kembali desa-desa yang hancur agar bangsanya dapat belajar bagaimana nilai-nilai warisan luhur dibentuk.
Sejarah Banten adalah contoh bagaimana kita pernah berjaya dan menguasai perdagangan dunia.  Warisan dan kearifan lokal, mulai dari pengelolaan kota, ekonomi, transportasi dan bahkan membangun toleransi dan harmoni antar perbedaan bangsa, ras dan agama patut menjadi contoh.  Dengan kita menghargai sejarah, semoga, semakin banyak yang peduli untuk kembali melestarikan sejarah Banten.  Mungkin dapat dimulai dari kita yang menyusuri Wisata Sejarah Banten.  Setelah selesai wisata sejarah Banten, jangan lupa isi perut Anda dengan Pecak Bandeng yang pas di Mulut
Mari kita semua selamatkan warisan kearifan lokal Kesultanan Banten.  Mari kita selamatkan Wisata Sejarah Banten dan nilai-nilainya.  #SaveBantenHeritage
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
 

 

Share
Chrysanthi Tarigan

About Chrysanthi Tarigan

bungakrisan comes from my name Chrysanthi or Chrysanthemum, meaning Chrysanthemum flower. My dad who passed away in 1999 gave me the name because he wanted me to grow like the flower. Chrysanthemum is very useful for human life because it can be medicine, tea or even for decoration. That's probably what my daddy wanted me to be. When I was kid, he looked at me and told me that he wanted me to be a writer which something I did not know how to do it. I created this blog to honor my daddy...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *