Belajar Berkawan dengan Semesta Alam dari Suku Baduy

“Disini banyak harimau tapi tidak pernah marah karena kami tidak pernah mengganggu”.  Sejenak kalimat dari Pak Naldi, suku Baduy dalam terdengar biasa saja.  Tapi jika kita cermati kembali, sangatlah filosofis dan membuat kita mengerti alam.  Alam tidak akan marah jika kita tidak mengganggu keseimbangannya. Begitu kira-kira terjemahan dari kalimat Pak Naldi.

Suku Baduy memang salah satu suku di Indonesia yang masih memegang teguh nilai kepercayaan secara turun temurun. Mereka  mengasingkan diri dari dunia luar.  Masyarakat Baduy tinggal di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten.  Suku Baduy menyebut dirinya Urang Kanekes atau orang Desa Kanekes yang taat pada pimpinan adat tertinggi yaitu Pu’un.  Seperti yang kita ketahui, Suku Baduy terdiri atas Baduy dalam (Tangtu) dan Baduy luar (Panamping).

Suku Baduy dalam adalah mereka yang benar-benar mematuhi konsep Pikukuh (apa adanya).  Mereka sangat terikat dengan hukum adat dan mengemban tugas penting untuk menjaga keseimbangan alam. Orang Tangtu tidak memakai odol,sabun dan bahan kimia lain karena dinilai akan mencemari lingkungan.  Mereka membangun rumah dan jembatan tanpa palu dan paku serta berjalan tidak memakai alas kaki.  Dilarang mengambil foto di wilayah Baduy dalam dan mereka juga menolak kedatangan WNA.  Jika hal ini dilanggar, maka mereka akan dikenai hukum adat.

Pak Kardi, suku Baduy dalam memakai baju putih dan sarung pendek yang dijahit dan ditenun sendiri
Pak Naldi, suku Baduy dalam memakai baju putih dan sarung pendek yang dijahit dan ditenun sendiri (bungakrisan)

Suku Baduy luar lebih sedikit terbuka, walaupun secara prinsip mereka sama-sama memiliki tugas untuk merawat alam. Mereka sudah banyak yang memiliki handphone, walaupun tetap tidak ada listrik di rumah mereka.  Namun, beberapa rumah menggunakan tenaga surya.  Kita bisa membedakan Baduy dalam dan luar dari cara mereka berpakaian.  Mereka yang mengenakan pakaian hitam dan ikat kepala biru tua adalah Baduy luar.  Pakaian hitam menandakan bahwa mereka sudah terkontaminasi budaya lain (tidak suci lagi).  Sedangkan Baduy dalam menggunakan sarung pendek, baju tenun putih dan ikat kepala putih yang semuanya ditenun dan dijahit dengan tangan.

Mulyono, penggerak di Baduy luar. Banyak suku Baduy luar bahkan memakai baju modern
Mulyono, penggerak di Baduy luar. Banyak suku Baduy luar bahkan memakai baju modern (bungakrisan)

Suku Baduy menolak sekolah formal.  Pak Naldi mengatakan bahwa anak-anak sejak umur 5 tahun sudah membawa golok.  Mereka diajari bertahan hidup di alam dan membantu orang tua berladang.  Urang Kanekes hidup dari bercocok tanam,menjual hasil hutan seperti pisang dan madu serta menjual hasil tenun maupun karya seni lainnya.  Tetapi, Mulyono memiliki pendapat yang berbeda.  “Dengan semakin banyaknya wisatawan datang kesini, maka pendidikan semakin penting.  Minimal anak-anak ini harus bisa baca tulis.  Saya sendiri punya cita-cita untuk kuliah, sayang kesempatan itu belum ada,” ujarnya.  Mulyono saat ini mengundang para tamu untuk menyumbangkan buku-buku agar anak-anak belajar membaca dan menulis.

Suku Baduy luar menenun dan menjual hasilnya pada wisatawan yang datang
Para wanita menenun dan menjual hasilnya pada wisatawan yang datang (bungakrisan)
Tenun-tenun yang dijual ada yang berwarna-warni, indigo dan warna-warna alam
Tenun-tenun yang dijual ada yang berwarna-warni, indigo dan warna-warna alam (bungakrisan)
Tangga dari bambu dipakai untuk mengambil sagu
Tangga dari bambu dipakai untuk mengambil sagu (bungakrisan)

Suku Baduy menganut ajaran Sunda atau yang disebut Sunda Wiwitan.  Mereka berdoa dengan cara merawat keseimbangan alam.  Cara bercocok tanam juga sangat ramah lingkungan dan tidak mengganti struktur alam seperti dibuat terasering.  Mereka hidup dari bambu dan menanam serta merawat pohon bambu. Rumah dan jembatan dibangun dari bambu.  Tahukah Anda bahwa bambu adalah tanaman yang terbaik untuk konservasi?  Inilah salah satu kearifan lokal.

Rumah dibangun dari bambu
Rumah dibangun dari bahan bambu (bungakrisan)
Membangun jembatan dari bambu
Membangun jembatan dari bahan bambu (bungakrisan)

Menuju ke desa mereka, kita harus menempuh perjalanan yang lumayan naik dan turun.  Kalau hujan sangat licin,  Tetapi Urang Kanekes bisa berlari bahkan memanggul kayu dan barang hasil hutan.

Track menuju desa
Track menuju desa (bungakrisan)
Sungai yang hijau
Sungai yang hijau (Suku Baduy/bungakrisan)
Banyak juga yang sering mendaki gunung Kendeng
Banyak juga yang sering mendaki gunung Kendeng (bungakrisan)

Salah satu cara menjaga dan menghormati alam adalah dengan menyimpan padi di lumbung.  Padi disimpan untuk menjaga kemungkinan paceklik sehingga mereka tidak kelaparan.

Lumbung tempat menyimpan padi
Lumbung tempat menyimpan padi (bungakrisan)

Lalu, apa hiburan orang Baduy jika tidak ada listrik?  “Kalau malam kami menatap langit dan bintang-bintang serta mendengarkan suara binatang.  Indah sekali” ujar Ibu Misnah, salah satu warga Panamping.  Mungkin, itu adalah salah satu cara mereka berdoa.

Ibu Misnah di depan rumahnya.
Ibu Misnah di depan rumahnya (bungakrisan)

FUN FACTS SUKU BADUY

  • Mereka menikah muda dan harus dengan suku mereka sendiri.  Jika mendapatkan orang dari luar, mereka dikeluarkan dari desanya
  • Gadis mudanya sudah banyak yang mengenal lipstik
Cantik yah gadis-gadisnya. Mereka sudah mulai pakai lipstik...
Cantik yah gadis-gadisnya. Mereka sudah mulai pakai lipstik…(bungakrisan)
  • Mereka memelihara ayam, tetapi tidak untuk dimakan.  Ayam seperti layaknya kucing, adalah hewan peliharaan
Kucing Kanekes bersih dan sehat
Kucing Kanekes bersih dan sehat (bungakrisan)
  • Nama mereka hanya terdiri dari dua penggalan seperti Misnah, Eman, dan Kardi.  Anak laki-laki mewarisi huruf depan Ibu dan anak perempuan dari Bapak.  Misalnya Ibu namanya Cecek, anak namanya Carmin
  • Sampai saat ini belum diketahui asal usul Suku Baduy.  Ada yang bilang bahwa mereka adalah Prajurit Pajajaran yang lari dan menyembunyikan identitas.  Namun mereka sendiri percaya bahwa mereka adalah keturunan Batara Cikal yang diutus dari nirwana untuk menjaga harmoni alam
  • Suku Baduy sangat suka bersosialisasi.  Mereka menganut gotong royong dan sangat senang berteman. Jadi jika Anda memberikan no telpon dan alamat Anda, jangan kaget kalau tiba-tiba mereka datang di depan pintu kantor atau rumah untuk menjual madu dan kerajinan tangan.  Karena tidak boleh naik kendaraan, mereka jalan menuju rumah Anda.  Jika mereka meninggalkan rumah lebih dari 7 hari, maka mereka akan dikenai sanksi adat

 

 

Share
Chrysanthi Tarigan

About Chrysanthi Tarigan

bungakrisan comes from my name Chrysanthi or Chrysanthemum, meaning Chrysanthemum flower. My dad who passed away in 1999 gave me the name because he wanted me to grow like the flower. Chrysanthemum is very useful for human life because it can be medicine, tea or even for decoration. That's probably what my daddy wanted me to be. When I was kid, he looked at me and told me that he wanted me to be a writer which something I did not know how to do it. I created this blog to honor my daddy...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *