Seba Baduy:Titipkan Amanat pada Pemimpinnya

Seba Baduy dimaknai juga sebagai silaturahmi.  Tradisi ini telah dijalankan masyarakat Baduy atau yang biasa disebut dengan Urang Kanekes sejak ratusan tahun lalu, yaitu pada jaman Kesultanan Banten.  Pada jaman kerajaan, masyarakat memang biasanya menghadap raja sambil membawa upeti.  Masyarakat Baduy berbeda, mereka menyebutnya dengan oleh-oleh sembari menitipkan amanat pada pemimpinnya.  Amanat tersebut adalah aspirasi yang biasanya berupa tiga pesan, yaitu menjalin komunikasi dan silaturahmi, mendorong pemimpin untuk berbuat adil dan menjaga kelestarian alam.

Baca juga:

Belajar Berkawan dengan Semesta Alam dari Suku Baduy

Wisata Sejarah Banten, Cantik namun Terpuruk

Tradisi ratusan tahun ini biasanya dimulai dengan puasa selama tiga bulan yang dinamakan dengan Kawalu.  Selama tiga bulan penuh, tidak ada orang luar yang diperbolehkan masuk ke wilayah Suku Baduy Dalam.  Dalam jangka waktu tiga bulan tersebut, selain berpuasa, mereka menjalankan ritual adat untuk mendapatkan pesan mengenai seba yang akan dilakukan.  Tahun ini seba yang dilakukan adalah besar, yang diikuti cukup banyak masyarakat Baduy, yaitu 1.658 dan selain hasil bumi juga peralatan masak menjadi oleh-oleh bagi Bapak/Ibu Gede, begitu mereka menyebut pemimpinnya.  Dalam dunia modern ini, pemimpin yang dimaksud adalah Gubernur Banten dan Presiden Republik Indonesia.  Ritual Seba dilakukan di Pendopo Lama Gubernuran.  Perwakilan Suku Baduy dalam dikabarkan juga menuju istana presiden untuk membawa oleh-oleh tersebut.

Sebanyak 1.658 orang yang membawa oleh-oleh ke Bapak Gede tersebut, berasal dari tiga kampung dimana sekitar 83 orang adalah Suku Baduy Dalam dan yang lainnya adalah Suku Baduy Luar.  Saat ini terdapat 63 kampung yang ditempati  lebih dari 11.000 Suku Baduy dimana Suku Baduy Dalam menempati 3 kampung.

Pada ritual ini, Suku Baduy Dalam jalan pada malam harinya, sedangkan Suku Baduy Luar naik kendaraan sampai ke GOR Ciceri Kota Serang.  Dari sini, keduanya bertemu dan berjalan sekitar 6 km ke Pendopo Gubernuran.  Mereka terdiri dari orang tua maupun anak-anak, namun tidak ada perempuan yang ikut dalam rombongan.  “Ini memang acaranya para laki-laki,” ujar Mul, masyarakat Baduy Luar sambil tersenyum.

Masyarakat Baduy berjalan menuju Pendopo Gubernur dalam ritual Sebay Baduy (bungakrisan)
Masyarakat Baduy berjalan menuju Pendopo Gubernur dalam ritual Sebay Baduy (bungakrisan)

Ritual Seba Baduy disambut dengan meriah oleh tari-tarian dan hiburan lainnya di Pendopo Gubernur.  Mereka yang pertama kalinya mengikuti acara ini, langsung menuju ke belakang pendopo untuk didoakan dan mandi di sungai.  “Ceritanya, dulu ratu disini adalah Suku Baduy dan mandinya di sungai itu.  Tetapi sekali lagi, di masyarakat kami, tuturnya lisan dan bukan tutur tulisan.” Jelas Mul kembali.

Mereka yang baru pertama kali mengikuti Seba Baduy mengantri untuk didoakan dan mandi di sungai belakang pendopo ini (bungakrisan)
Mereka yang baru pertama kali mengikuti Seba Baduy mengantri untuk didoakan dan mandi di sungai belakang pendopo ini (bungakrisan)

Acara dimulai sekitar Pk.20.00 WIB, dengan bacaan mantra Sunda.  Dibacakan pula sekali lagi pepatah dari Suku Baduy…

Lojor teu meunang dipotong

Pendek teu meunang disambung

Kurang teu meunang ditambah

Leuwih teu meunang dikurang

Yang juga berarti bahwa hidup itu apa adanya yang diberikan Tuhan, tidak boleh ditambah maupun dikurang.  Dalam arti pula bahwa kita harus menjaga keseimbangan alam.

Jaro Tanggungan 12 Saidi Putra yang menjadi perwakilan dari Suku Baduy menyampaikan pesan kepada Bapak Gede untuk menjaga kelestarian alam, terutama gunung-gunung di sekitar mereka tinggal.  Kemudian diserahkan pula laksa, yaitu olahan padi terbaik dari Suku Baduy kepada Pejabat Banten, Nata Irawan.

Perwakilan Suku Baduy menyampaikan amanatnya kepada pemimpin Banten (bungakrisan)
Perwakilan Suku Baduy menyampaikan amanatnya kepada pemimpin Banten (bungakrisan)
Pemberian laksa kepada Pejabat Banten (bungakrisan)
Pemberian laksa kepada Pejabat Banten (bungakrisan)

Sayangnya, ritual tiap tahun ini hanyalah sekedar ritual.  Acaranya ini hanya diharapkan dapat meningkatkan gairah wisata, tidak lebih.  Tidak ada penyampaian apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin untuk melaksanakan amanat dari Suku Baduy.  Padahal, penyampaian amanat ini dilakukan secara serius oleh Suku Baduy, mulai dari puasa, menyiapkan hasil bumi terbaik sampai berjalan berkilo-kilo untuk bertemu “raja” nya.

Cerita Lucu dari Seba Baduy

Kita semua mengetahui bahwa Suku Baduy, terutama Suku Baduy Dalam menolak untuk dipengaruhi budaya luar, terutama modernisasi.  Kesempatan “keluar” ini biasanya dilakukan pada saat Seba Baduy maupun jika mereka menjual madu ke kenalan di Jakarta.

Salah satu kesempatan langka ini dimanfaatkan beberapa Suku Baduy Luar untuk mampir ke Ramayana, pertokoan yang berada di dekat Pendopo.  Mereka melihat-lihat barang-barang yang dijual walaupun tidak membelinya.  Beberapa diantara mereka mencoba eskalator.  Tentu saja tingkah laku mereka yang unik ini mengundang senyum yang melihatnya.  Suku Baduy Dalam memang sangat teguh untuk memegang tradisi mereka.  Mereka berkelompok dan hanya diam sambil duduk beristirahat.

Asmin, Suku Baduy Dalam yang mengundang perhatian (bungakrisan)
Asmin, Suku Baduy Dalam yang mengundang perhatian (bungakrisan)

Namun, salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah seorang Suku Baduy Dalam yang wajahnya sangat tampan.  Asmin, begitu namanya, adalah bapak tiga anak.  Ia duduk di barisan paling depan dan segera mengundang para wartawan untuk mengabadikan paras tampannya tersebut dengan kamera.  Kulitnya putih bersih, kenyal dan halus seperti kulit bayi.  Hidung mancung dengan postur tubuh yang tinggi.  Padahal, Asmin adalah petani, seperti juga Suku Baduy lainnya, yang berada di kebun setiap hari.  Suku Baduy Dalam juga tidak menggunakan bahan-bahan kimia dan makanan mereka alami, organik alam.  Tidak heran jika Asmin mendapat perhatian dari seluruh tamu saat itu.  Namun jika dilihat dengan seksama, Suku Baduy Dalam memang memiliki fisik yang berbeda.  Hidung mereka mancung dengan kulit putih yang bersih dan bersinar.  Selain mungkin menjaga dari sentuhan produk kimia, hidup yang benar dan teratur, mereka adalah orang-orang yang jauh dari kejahatan.  Aura kebaikan terpancar dari wajah mereka yang membuatnya bersinar.( bungakrisan)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Share
Chrysanthi Tarigan

About Chrysanthi Tarigan

bungakrisan comes from my name Chrysanthi or Chrysanthemum, meaning Chrysanthemum flower. My dad who passed away in 1999 gave me the name because he wanted me to grow like the flower. Chrysanthemum is very useful for human life because it can be medicine, tea or even for decoration. That's probably what my daddy wanted me to be. When I was kid, he looked at me and told me that he wanted me to be a writer which something I did not know how to do it. I created this blog to honor my daddy...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *