Jejak Sejarah dalam Mengenang Hiroshima

Hujan yang mengguyur kota ini pada sore hari itu membasahi Peace Memorial Park, yaitu sebuah taman yang penuh dengan prasasti untuk mengenang Hiroshima.  Hujan seakan menambah kelabunya perasaan para wisatawan yang datang ke taman itu menyaksikan bagaimana bom yang dijatuhkan Sekutu pada 72 tahun yang lalu meluluhlantahkan kota ini dan menewaskan 80 ribu orang serta melukai 35 ribu lainnya.  Tidak hanya itu, efek radiasi dari bom ini membuat 60 ribu orang meninggal kemudian.

Jika bom ini tidak dijatuhkan, mungkin Perang Dunia II masih berlangsung dan bahkan Indonesia belum merdeka.  Bom itu tidak hanya meledakkan dua kota di Jepang, tetapi juga mengubah dunia.    Kota Hiroshima saat itu menjadi target awal karena adalah pusat militer Jepang dengan 43 ribu tentara menetap disitu. Pangkalan militernya dekat dengan Hiroshima Castle yang kemudian ikut luluh lantah karena bom ini.

Baca juga : Selusuri Arsitektur Jepang Abad Pertengahan di Himeji Castle

Hiroshima Castle dibangun kembali dan saat ini difungsikan menjadi museum (bungakrisan)
Hiroshima Castle dibangun kembali dan saat ini difungsikan menjadi museum (bungakrisan)
Bekas pangkalan militer Jepang di dekat Hiroshima Castle (bungakrisan)
Bekas pangkalan militer Jepang di dekat Hiroshima Castle (bungakrisan)

Digambarkan pada saat itu oleh Kolonel Paul Tibbets yang menjadi pilot pesawat Enola Gay yang melepaskan “Little Boy” yaitu bom uranium seberat 9.700 pound, bahwa pesawatnya seperti terhempas dan 43 menit kemudian ledakannya seperti awan mendidih yang sangat tinggi.  Bom itu memang dijatuhkan tepat di bawah lapangan dimana para pasukan militer Jepang sedang melakukan senam.  Walaupun bom sedemikian hebat, ada dua pohon yang selamat dan sampai saat ini masih tetap hidup.  Pohon ini ada di sekitar area Hiroshima Castle.

Mengenang Hiroshima beberapa tahun yang lalu memang berat bagi keluarga dan masyarakat yang menjadi saksi kala itu.  Salah satu yang meninggalkan kesedihan adalah sisa bangunan Hiroshima Prefectural Industrial Promotion Hall yang tadinya adalah tempat untuk pameran seni dan pendidikan.  Bangunan ini memang paling dekat dengan pusat pengeboman namun masih ada sisa-sisanya. Warga Hiroshima sempat berdebat apakah bangunan ini sebaiknya dihancurkan atau dijaga kelestariannya untuk mengenang apa yang telah terjadi saat itu.  Namun pada 7 Desember 1996, sisa-sisa bangunan ini akhirnya menjadi daftar dari Unesco world heritage dan menjadi simbol dari perdamaian dunia.  Sisa bangunan yang saat ini diberi nama A-Bomb dome ini dapat kita lihat di Hiroshima Peace Memorial Park.

Baca juga: 10 Tempat Menikmati Sakura di Jepang

Sisa bangunan yang dulunya menjadi tempat pameran ini sempat diminta untuk dihancurkan karena menyisakan kesedihan bagi sebagian besar masyarakat Hiroshima (bungakrisan)
Sisa bangunan yang dulunya menjadi tempat pameran ini sempat diminta untuk dihancurkan karena menyisakan kesedihan bagi sebagian besar masyarakat Hiroshima (bungakrisan)

Melangkah dari A-Bomb Dome, maka akan terlihat sebuah monumen yang diputari dengan lemari kaca dimana di dalamnya banyak sekali origami burung merpati, tanda perdamaian.   Monumen ini dipersembahkan untuk Sadako Sasaki dan ribuan anak-anak yang menjadi korban pengeboman Hiroshima untuk mengenang Hiroshima.  Cerita mengenai Sadako Sasaki mungkin sudah pernah kita dengar.  Sadako Sasaki berada di dekat lokasi pengeboman pada saat ia masih berumur dua tahun, namun selamat dari tragedi itu.  Setelah 9 tahun setelah kejadian, ia mulai mengalami pembengkakan di kaki dan beberapa bagian tubuh yang ternyata adalah Leukimia.  Kanker ini terjadi akibat dari radiasi bom Hiroshima.  Tidak hanya Sadako Sasaki, ribuan anak-anak lain juga mengalami hal yang sama karena radiasi ini.  Pada saat Sadako Sasaki dirawat di rumah sakit, teman sekamarnya mengatakan bahwa doa dan harapannya akan terkabul jika ia membuat origami burung merpati.  Maka, ia mulai membuatnya dan bertekad untuk menyelesaikan 1000 merpati kertas.  Sering kehabisan kertas, Sadako Sasaki akan membuatnya dari kertas apapun, seperti sisa-sisa bungkus obat, ataupun meminta di kamar-kamar pasien yang lain.  Tak jarang, teman-temannya di sekolah akan membawakan kertas untuknya.  Namun sayang, Sadako Sasaki hanya berhasil menyelesaikan 644 merpati sampai ajal menjemput.  Teman-temannya kemudian meneruskannya, melengkapi sampai 1000 merpati kertas dan menguburkannya bersama dengan jenasah anak umur dua belas tahun ini.  Sejak itu merpati kertas menjadi simbol bagi perdamaian dunia.

Mengenang Sadako Sasaki, Mengenang Hiroshima (bungakrisan)
Mengenang Sadako Sasaki, Mengenang Hiroshima (bungakrisan)

Ternyata, tragedi pengeboman Hiroshima ini tidak hanya menyisakan kesedihan bagi masyarakat Jepang, tetapi juga masyarakat Korea.  Pada saat itu, banyak warga Korea yang menetap di Jepang dan sebanyak 45 ribu orang ikut menjadi korban dalam kejadian tersebut.  Kesedihan bagi warga Korea yang menjadi minoritas pada saat itu karena mereka diabaikan.  Akhirnya, Korea membuat monumen untuk mengenang Hiroshima dan jasad warganya yang menjadi korban saat itu.

Monumen ini didirikan untuk mengenang warga Korea yang menjadi korban pengeboman Hiroshima (bungakrisan)
Monumen ini didirikan untuk mengenang warga Korea yang menjadi korban pengeboman Hiroshima (bungakrisan)

Pada saat Perang Dunia II, anak-anak muda di Jepang dikerahkan untuk mendukung perang.  Anak-anak tersebut bekerja untuk menyediakan makanan atau menjahit pakaian.  Di Hiroshima, sebanyak lebih dari 8000 siswa dikerahkan dimana lebih dari 6000 menjadi korban pengeboman.  Mereka yang selamat dikabarkan menyimpan rasa bersalah yang berlebihan karena teman-temannya menjadi korban.  Untuk mengenang mereka yang gugur pada saat itu, akhirnya dibuatlah menara di Hiroshima Peace Memorial Park.  Monumen setinggi 12 meter itu dihiasi dengan sosok Dewi Perdamaian, delapan ekor merpati dan plakat yang menunjukkan pekerjaan siswa-siswi tersebut.

Menara ini diperuntukkan bagi siswa-siswi yang menjadi korban pengeboman Hiroshima (bungakrisan)
Menara ini diperuntukkan bagi siswa-siswi yang menjadi korban pengeboman Hiroshima (bungakrisan)

Di Hiroshima Memorial Park ini juga terdapat kolam yang di atasnya ditaruh api kekal sebagai lambang perdamaian.  Monumen-monumen lain dipasang untuk mengenang mereka yang gugur, mengenang Hiroshima.  Lambang-lambang perdamaian seperti jam perdamaian menjadi pengingat bagi kita semua untuk menghindari perang dan mengingat kembali kejadian traumatik yang menyisakan kesedihan tiada berakhir ini. 

Sisi Lain Hiroshima

Dengan menyeberang menggunakan kapal fery selama 15 menit, tepatnya di Teluk Hiroshima, sebuah pulau kecil bernama Itsukushima atau Miyajima (Shrine mengambang) menjadi pusat perhatian wisatawan.  Pulau ini kerap diberi nama “Island of God” atau “God Dwells” karena indah dan suci.  Berabad-abad tahun yang lalu, Miyajima memang diyakini sebagai tempat Tuhan tinggal.  Pada tahun 806 masehi, seorang biksu bernama Kōbō Daishi naik Gunung Misen (gunung yang ada di pulau Miyajima) dan mendirikan gunung tersebut sebagai tempat pertapaan sekte Buddhisme Shingon. Karena sucinya, wanita tidak diperkenankan tinggal di tempat ini.  Orang tua yang menghadapi kematian juga dikirim ke tempat lain agar tidak ada yang meninggal di tempat ini.  Ritual kelahiran dan kematian dianggap menodai tempat suci ini.  Sampai saat ini, pulau yang berpenghuni sekitar 2000 orang ini tetap tidak mengalokasikan tempat untuk kuburan.

Kapal Ferry yang membawa kita menyeberangi pulau Miyajima (bungakrisan)
Kapal Ferry yang membawa kita menyeberangi pulau Miyajima (bungakrisan)

Yang sangat terkenal dari Pulau Miyajima ini adalah Tori Gate yang besar dan terendam air pasang.  Jika surut, kita dapat berjalan di bawah Tori gate ini.  Kemudian di belakang tori ada Kuil Itsukushima yang di bangun di sisi pantai pada akhir abad keenam.  Di kuil ini sekarang sering diselenggarakan pernikahan.

Tori gate pada saat air pasang (bungakrisan)
Tori gate pada saat air pasang (bungakrisan)
Kuil ini sering menjadi tempat pernikahan warga Jepang (bungakrisan)
Kuil ini sering menjadi tempat pernikahan warga Jepang (bungakrisan)

Di pulau ini juga dilepaskan ribuan rusa liar yang dapat berinteraksi dengan pengunjung langsung.  Namun dilarang memberikan makanan kepada rusa-rusa ini karena mereka dibiarkan hidup liar dan bertahan dengan alam.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kita juga dapat mendaki Gunung Misen jika tidak sedang hujan ataupun berjalan-jalan melihat-lihat kuil-kuil kuno.  Salah satu kuil yang indah adalah Daishō-in yang didirikan oleh biksu Kūkai pada 806 tahun pertama era Daidō,  Biksu Kūkai adalah salah satu biksu paling terkenal dan pendiri Buddhisme Shingon.  Tempat ini pernah dijadikan kuil untuk berdoa bagi perdamaian dan keamanan bangsa Jepang ketika Era Kekaisaran Toba (bungakrisan)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Share
Chrysanthi Tarigan

About Chrysanthi Tarigan

bungakrisan comes from my name Chrysanthi or Chrysanthemum, meaning Chrysanthemum flower. My dad who passed away in 1999 gave me the name because he wanted me to grow like the flower. Chrysanthemum is very useful for human life because it can be medicine, tea or even for decoration. That's probably what my daddy wanted me to be. When I was kid, he looked at me and told me that he wanted me to be a writer which something I did not know how to do it. I created this blog to honor my daddy...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *