Kampung Jodipan, apa yang berubah?

Kereta api yang membawa saya pulang dari Yogyakarta ke Malang melintasi Kampung Jodipan sebelum tiba di Stasiun Kotabaru.  Kampung yang berada di pinggir Sungai Brantas yang merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa.  Layaknya pemukiman di pinggir sungai, kampung ini dulunya merupakan lokasi kumuh apalagi letaknya yang berada di bawah jembatan.  Namun terlihat dalam jendela kereta, kampung ini terlihat segar dengan warna-warna cerianya.

Penasaran melihat perubahan Kampung Jodipan, sebelum kembali ke Yogyakarta saya menyempatkan untuk mengunjungi pemukiman ini.  Wilayah ini bukanlah hal yang baru bagi saya yang lahir dan besar di Malang.  Sejak jaman Belanda, Jodipan sudah ada sebagai dan pernah menjadi pusat pemerintahan Kadipaten Malang.  Bahkan, diduga kampung ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Hindu-Budha karena sempat ditemukannya peninggalan arca di wilayah ini.

Baca juga: Teluk Bidadari di Malang, Tempat Mandinya Para Peri

Seiring dengan waktu, Jodipan menjelma menjadi kawasan kumuh layaknya perkampungan yang berada di sisi bantaran sungai.  Namun pada pertengahan tahun 2016, mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Universitas Muhammadyah Malang (UMM) yang tergabung dalam kelompok gyspro mengajukan proposal untuk tugas akhirnya.  Idenya adalah mencat Kampung ini warna warni seperti kampung warna warni di Rio De Jainero, Brasil atau Desa Gamcheon, Korea Selatan agar mengundang wisatawan.  Kehadiran wisatawan ini diharapkan dapat mengubah perilaku masyarakat kampung agar hidup bersih dan sehat.

Baca juga : 8 Jajanan Lezat di Korea Selatan yang Wajib Anda coba

Proposal ini kemudian diajukan kepada perusahaan cat Decofresh untuk menjadi program Corporate Social Responsibility (CSR).  Gayung bersambut, pihak perusahaan pun menyetujui proposal ini dengan nama program “Decofresh Warnai Jodipan”.  Masyarakat, anggota TNI dan mahasiswa pun melakukan pengecetan rumah-rumah di Kampung Jodipan.

Kampung Jodipan menjelma menjadi Kampung warna-warni (bungakrisan)
Kampung Jodipan menjelma menjadi Kampung warna-warni (bungakrisan)

 

Wisatawan seperti sayapun berdatangan melihat-lihat dan berfoto di kampung warna warni ini.  Selain warnanya yang cerah, sepanjang gang di kampung ini diberi hiasan untuk berfoto seperti payung, bunga dan aksesoris lainnya.

Payung-payung yang digantung untuk berfoto (bungakrisan)
Payung-payung yang digantung untuk berfoto (bungakrisan)
Satu Kawasan yang digambar dan dihiasi dengan desain bunga (bungakrisan)
Satu Kawasan yang digambar dan dihiasi dengan desain bunga (bungakrisan)

Apakah Perilaku Masyarakat Berubah?

Masuk ke area Kampung Warna Warni ini bukan gratis tetapi tidak juga mahal.  Cukup dengan membayar Rp. 2000 saja kita dapat melihat-lihat seluruh rumah yang ada di wilayah ini.  Uang yang terkumpul dari tiket masuk inilah yang dikumpulkan untuk biaya pengangkutan sampah.  Masyarakat juga mendapatkan dampak ekonomi dari pengelolaan parkir sampai dengan berjualan makanan dan minuman.

Jika kita lihat di sekitar bantaran sungai, memang lebih bersih dari ketika kampung ini masih kumuh.  Namun, tak juga sebersih yang kita harapkan.  Masih banyak plastik, kertas, botol, sampah organik dan masih banyak lagi dibuang di sekitar sungai.  Entah siapa yang membuang, tetapi ada juga wisatawan yang turut menyumbang sampah dengan membuang sembarangan.

Di beberapa gang sudah terlihat bersih walaupun beberapa masih tercium bau pesing.  Inilah mungkin tantangannya, pada akhirnya masyarakat sendirilah yang harus punya kemandirian untuk mengelola manfaat dari program ini.  Apakah kampung ini dapat tetap menjawab masalah sebelumnya akan kita lihat seiring berjalannya waktu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mengulang Sukses dengan Penciptaan Kampung Tridi

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sukses Kampung Warna Warni ini menjadi contoh bagi wilayah sekitarnya.  Di seberang sungai, kampung sebelah pun ingin mencontohnya.  Masyarakat setempat pun menggagas sebuah kampung dengan lukisan 3D atau di lidah orang Jawa menjadi tridi.  Masih dengan lanjutan program CSR dari Decofresh, maka mulailah gambar-gambar dilukis dan rumah-rumah dicat.

Gang di Kampung Tridi yang telah diwarnai dan dilukis (bungakrisan)
Gang di Kampung Tridi yang telah diwarnai dan dilukis (bungakrisan)

Kampung Tridi ini juga mengeluarkan tiket masuk sedikit lebih mahal dari Kampung Warna Warni yaitu Rp.3000 per orang.  Karena lebih baru, kampung ini belum memperlihatkan tanda-tanda kemajuan. Sampah masih banyak terlihat dan perilaku sanitasi masih perlu peningkatan karena masih ada anak-anak kecil yang buang air kecil sembarangan di sekitar gang (bungakrisan)

 

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Share
Chrysanthi Tarigan

About Chrysanthi Tarigan

bungakrisan comes from my name Chrysanthi or Chrysanthemum, meaning Chrysanthemum flower. My dad who passed away in 1999 gave me the name because he wanted me to grow like the flower. Chrysanthemum is very useful for human life because it can be medicine, tea or even for decoration. That's probably what my daddy wanted me to be. When I was kid, he looked at me and told me that he wanted me to be a writer which something I did not know how to do it. I created this blog to honor my daddy...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *