Jalan-jalan di Bulan Puasa? Ke Cirebon Aja….

Jalan-jalan di bulan puasa?  Mungkinkah?  Biasanya kita pasti menunda rencana jalan-jalan setelah Lebaran karena takut  jika rasa haus dan lapar mendera.  Tak perlu khawatir, destinasi di Jawa Barat patut dicoba. Begini itinerary nya

Menunggu Matahari Terbit di Pantai Kejawanan

Setelah sahur dan sholat subuh, jangan langsung tidur lagi.  Sempatkan untuk melihat cantiknya matahari terbit di Pantai Kejawanan.  Letak pantai ini dekat dengan Pelabuhan Cirebon tepatnya di Jl. Yos Sudarso. Sebelum matahari terbit, sudah banyak orang mendatangi pantai ini.  Selain untuk menikmati matahari terbit, biasanya mereka juga ingin memancing ikan.

Pemandangannya cukup indah berlatar belakang gunung tertinggi di Jawa Barat, yaitu Gunung Ciremai.  Banyak pula kapal-kapal nelayan berlabuh disini mengantarkan pemiliknya kembali ke keluarga setelah mencari nafkah di tengah laut.  Jika sudah agak siang, para pemilik kapal biasanya bersedia mengantarkan wisatawan untuk berkeliling Pantai.

Artikel terkait:

Tidak ada tiket masuk pada dini hari saat mengunjungi pantai ini, hanya memberi tips pada penjaga portal pintu masuk.  Ada yang menarik dari Pantai Kejawanan ini, lumpur di sekitar pantai dipercaya menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti keseleo, pegal linu dan bahkan stroke.  Tak ayal, banyak sekali masyarakat yang datang mencoba terapi lumpur Pantai Kejawan.

Setelah puas menikmati matahari terbit, kembalilah ke hotel untuk beristirahat sebentar.  Karena perjalanan jalan-jalan di bulan puasa ini masihlah panjang.

 

Wisata Keraton Cirebon

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah istirahat, kita dapat melanjutkan perjalanan keliling Kota Cirebon dengan mengunjungi Keraton Kanoman dan Kasepuhan.  Dalam sejarah kesultanan di Cirebon, wilayah ini memang kental dengan corak Islamnya.  Seperti halnya Banten, Cirebon merupakan wilayah yang strategis sebagai jalur pelayaran.

Artikel terkait:

Wisata Sejarah Banten, Cantik namun Terpuruk

Jalan-jalan di bulan Puasa ini bisa kita mulai dengan mendatangi Keraton Kanoman yang dulunya merupakan pusat peradaban Kesultanan Cirebon.  Seperti kebanyakan keraton di Indonesia, terjadi perpecahan yang kemudian membuat keraton di Cirebon menjadi  Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon.

Keraton Kanoman berada di Jl. Winaon, Kampung Kanoman, Kelurahan Lemah Wungkuk, Kecamatan Lemah Wungkuk.  Letaknya tepat di belakang Pasar Kanoman.  Kabar sejarah mengatakan bahwa bangunan pasar ini dulunya dibuat Belanda untuk menyamarkan kebesaran keraton.  Karena lokasinya yang berada di belakang pasar, agak susah masuk ke dalam keraton.  Dengan jalan yang sempit, kita harus melewati orang berjualan, berbelanja dan bahkan harus bertemu dengan becak dan motor.  Jalan masuk dan keluar yang hanya untuk satu mobil ini harus diatur oleh pihak keamanan pasar dan tukang parkir keraton agar tidak saling bertabrakan.

Security pasar yang harus mengatur keluar masuknya mobil agar tidak bertabrakan (bungakrisan)
Security pasar yang harus mengatur keluar masuknya mobil agar tidak bertabrakan (bungakrisan)

Keraton Kanoman ini didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin dan merupakan awal berkembangnya agama Islam di Cirebon.  Di belakang keraton terdapat satu bangunan penting yang bernama Witana yang berasal dari kata “awit ana”.  Bangunan ini adalah bangunan yang pertama dibuat di Keraton Kanoman.  Dalam  witana ada pendopo kayu tempat persemayaman raja sementara waktu itu.

Tempat peninggalan Sunan Gunung Jati di Keraton Kanoman.  Dulunya di depan pendopo ini adalah laut yang saat ini sudah menjadi daratan (bungakrisan)
Bangunan pertama  di Keraton Kanoman. Dulunya di depan pendopo ini adalah laut yang saat ini sudah menjadi daratan (bungakrisan)

Kita juga bisa minta diantarkan masuk ke singgasana Keraton Kanoman yang sering dipakai ritual tahunan Grebek Syawal.

Singgasana Keraton Kanoman yang dibuka pada saat menjalankan ritual tahunan (bungakrisan)
Singgasana Keraton Kanoman yang dibuka pada saat menjalankan ritual tahunan (bungakrisan)

Setelah berjalan-jalan seputar Keraton Kanoman, kita dapat berpindah ke Keraton Kasepuhan yang dulunya bernama Keraton Pakungwati.  Tempat bersejarah ini berada di Jl. Kasepuhan No 43, Kampung Mandalangan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemah Wungkuk, Cirebon, Jawa Barat.

Di depan Keraton Kesepuhan terdapat alun-alun Sangkala Buana yang dulunya menjadi  tempat latihan keprajuritan. Tempat ini juga menjadi pelaksanaan hukuman cambuk bagi rakyat yang melanggar peraturan.

Keraton Kasepuhan yang arsitekturnya mencerminkan budaya   Islam dan Hindu (bungakrisan)
Keraton Kasepuhan yang arsitekturnya mencerminkan budaya Islam dan Hindu (bungakrisan)

Seperti kebanyakan bangunan bersejarah di Cirebon, di kedua keraton tersebut dipasangi piring-piring dari Cina di tembok-temboknya.  Piring-piring ini didapatkan atas persahabatan dengan bangsa Cina yang menjadi pedagang dan melewati Cirebon.

Menelusuri Taman Sari Gua Sunyaragi

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah puas melihat-lihat keraton, jalan-jalan di bulan puasa kita lanjutkan dengan menjelajah di Gua Sunyaragi yang yang lokasinya masih di dalam kota Cirebon, yaitu di Jalan By Pass Brigjen Dharsono.   Sunyaragi merupakan bahasa Sanskerta yaitu “sunga” yang berarti sepi dan “ragi” yang artinya adalah raga.  Dulunya, gua ini digunakan Sultan Cirebon dan keluarganya untuk beristirahat dan berdoa.

Kompleks Taman Sari ini terdiri atas Pesanggrahan dan bangunan gua.  Pada bangunan Pesanggrahan dilengkapi dengan serambi, ruang tidur, kamar mandi, kamar rias dan ruang ibadah . Sedangkan bangunan gua dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air. Bagian luar kompleks memakai batu karang dan awan.

Bagian luar Gua Sunyaragi ditempeli dengan batu karang (bungakrisan)
Bagian luar Gua Sunyaragi ditempeli dengan batu karang (bungakrisan)

Gua Sunyaragi ini dulunya dikelilingi air dan sempat dipakai sebagai benteng pertahanan.  Pada tahun 1978 bangunan ini dirusak Belanda dan diperbaiki pada 1852 dengan arsiteknya dari Cina yaitu Tan Sam Cay, . Arsitek ini kemudian membocorkan rahasia benteng pertahanan Gua Sunyaragi dan kemudian ditangkap dan dibunuh oleh Kesultanan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Menunggu Berbuka di Waduk Setu Patok

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sambil menunggu berbuka, tidak ada salahnya sembari menikmati matahari terbenam di Waduk Setu Patok.  Waduk ini berlokasi di Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon yang dapat ditempuh sekitar 20 menit dari kota.  Gunung ini berlatar belakang Gunung Ciremai yang sangat indah.

Jalan-jalan di bulan puasa diakhiri dengan menikmati keindahan Waduk Setu Patok (bungakrisan)
Jalan-jalan di bulan puasa diakhiri dengan menikmati keindahan Waduk Setu Patok (bungakrisan)

Sambil menikmati matahari terbenam, bawalah minuman dan makanan takjil untuk dinikmati di tepi setu. Setelah puas, kembalilah ke Kota Cirebon untuk menyantap masakan khas Cirebon.  (bungakrisan)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Share
Chrysanthi Tarigan

About Chrysanthi Tarigan

bungakrisan comes from my name Chrysanthi or Chrysanthemum, meaning Chrysanthemum flower. My dad who passed away in 1999 gave me the name because he wanted me to grow like the flower. Chrysanthemum is very useful for human life because it can be medicine, tea or even for decoration. That's probably what my daddy wanted me to be. When I was kid, he looked at me and told me that he wanted me to be a writer which something I did not know how to do it. I created this blog to honor my daddy...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *