Hujan Guyur Perayaan Imlek 2017

Perayaan Imlek 2017 ini penuh berkah karena hujan tak henti-hentinya mengguyur wilayah Jakarta dan Tangerang.  Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, hujan juga diartikan sebagai pembawa keberuntungan, baik panjang umur, jodoh maupun rejeki.  Semakin besar hujan yang turun, dipercaya akan semakin besar pula rejeki.  Hujan juga berarti membawa damai karena dapat mendinginkan suasana yang sedang panas.

Baca juga: Menilik Sejarah dan Kehidupan Bangsa Cina di Indonesia

Tahun ini adalah tahun ayam api ataupun year of the rooster.  Ayam dikenal sebagai binatang pencari makan yang gigih dan pekerja keras.  Sosok ayam api disebut sebagai mereka yang menyelesaikan pekerjaan dengan dedikasi tinggi dan tidak suka orang lain ikut membantu.  Ia adalah seorang yang disiplin dalam belajar dan sukses dalam apapun yang dikerjakannya.  Karenanya, pada tahun ayam api ini, semangat kerja dapat meraih sukses dan kemenangan dalam rejeki.

Perayaan Imlek 2017 dengan tahun ayam api ini dirayakan oleh masyarakat Tionghoa di Tangerang dan Jakarta dengan suka cita.  Masyaraka Tionghoa mendatangai kelenteng-kelenteng untuk berdoa menyampaikan rasa syukur dan harapan sejak Jumat (27/1) malam hari sampai dengan keesokan harinya.  Mereka membakar lilin-lilin dengan berbagai bentuk.    Lilin panjang umur bentuknya langsing dan panjang.  Lilin murah rejeki gemuk dan melebar.  Sedangkan lilin enteng jodoh bentuknya sedang namun kembar dua yaitu merah dan kuning.

Perayaan Imlek 2017 di Kelenteng Boen Tek Bio

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di Kelenteng yang terletak di Jl. Bhakti No.14, Pasar Lama, Tangerang ini didirikan sekitar tahun  1684 oleh perkumpulan masyarakat Tionghoa di Petak Sembilan, Grogol.  Boen berarti sastra, tek berarti kebijakan dan bio berarti tempat ibadah.

Bergantian masyarakat Tionghoa terutama mereka yang tinggal di daerah Benteng ini masuk untuk berdoa.  Sesekali mereka bersalaman dengan kerabat yang mereka temui di kelenteng.  Walaupun hujan deras mengguyur, mereka tetap menyampaikan doanya dengan khusyuk.

Lilin-lilin yang ditaruh di luar ini apinya tetap menyala walaupun diguyur air hujan (bungakrisan)
Lilin-lilin yang ditaruh di luar ini apinya tetap menyala walaupun diguyur air hujan (bungakrisan)
Orang tua, remaja dan anak-anak menyampaikan doa syukur dan harapan (bungakrisan)
Orang tua, remaja dan anak-anak menyampaikan doa syukur dan harapan (bungakrisan)
Walaupun hujan mengguyur, masyarakat Tionghoa tetap khusyuk berdoa (bungakrisan)
Walaupun hujan mengguyur, masyarakat Tionghoa tetap khusyuk berdoa (bungakrisan)
Dupa dan kertas Twa Kim yang disediakan oleh pengurus Kelenteng untuk berdoa (bungakrisan)
Dupa dan kertas Twa Kim yang disediakan oleh pengurus Kelenteng untuk berdoa (bungakrisan)

Pengurus kelenteng ini juga menyediakan mie instan dan kopi panas untuk masyarakat umum dan pengunjung yang bebas mengambil.

Pengurus kelenteng memasakkan mie instan dan kopi panas untuk pengunjung dan masyarakat umum (bungakrisan)
Pengurus kelenteng memasakkan mie instan dan kopi panas untuk pengunjung dan masyarakat umum dalam Perayaan Imlek 2017 (bungakrisan)

Perayaan Imlek 2017 di Vihara Dharma Jaya Petak Sembilan

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Vihara yang terletak di Jl. Kemenangan III, Grogol ini tampak dijaga ketat oleh aparat.  Dari polisi sampai dengan tentara bersiaga menjaga keamanan vihara.

Masyarakat Tionghoa yang berdoa, masyarakat umum yang berfoto dan wartawan tampak lalu lalang di salah satu vihara tertua di Glodok ini.  Merah menjadi warna dominan yang menghiasi suasana vihara ini.  Berbagai lilin dinyalakan dan ratusan lampion dipasang menambah meriahnya perayaan imlek.

Berbagai bentuk lilin dinyalakan sebagai doa (bungakrisan)

Pada Perayaan Imlek 2017 ini, berbagai bentuk lilin dinyalakan sebagai doa (bungakrisan)

Perayaan Imlek 2017 di Vihara Ancol

Vihara Bahtera Bhakti ini dulunya bernama Da Bo Gong.  Di ruang utama Vihara ini terdapat makam Ibu Sitiwati.  Alkisah, juru kemudi rombongan Laksamana Cheng Ho yang sedang berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa jatuh cinta pada penari ronggeng bernama Sitiwati.  Karena terkesima melihatnya menari, si juru kemudi ini kemudian tertinggal kapal.  Karena keburu jatuh cinta, akhirnya iapun melamar Ibu Sitiwati yang merupakan muslim.  Ibu Sitiwati tidak memperbolehkan suaminya makan daging babi.  Sebaliknya si juru kemudi tidak membolehkan Ibu Sitiwati makan petai karena bau. Karenanya, di Vihara ini para pengunjung tidak diperkenankan membawa daging babi dan petai.

Makam keluarga Ibu sitiwati juga berada di Vihara ini (bungakrisan)
Makam keluarga Ibu sitiwati juga berada di Vihara ini (bungakrisan)

Pada perayaan imlek tahun ini, banyak sekali orang-orang yang meminta uang kepada para pengunjung yang datang berdoa.  Mereka duduk di depan Vihara sampai dengan pintu masuk.

Pada Perayaan Imlek 2017 ini, banyak yang datang mengharapkan uang dari pengunjung vihara yang datang untuk berdoa (bungakrisan)
Pada Perayaan Imlek 2017 ini, banyak yang datang mengharapkan uang dari pengunjung vihara yang datang untuk berdoa (bungakrisan)

Masyarakat Tionghoa yang berada di sekitar Ancol silih berganti berdatangan untuk berdoa.  Semoga di tahun ayam api ini diberikan kesehatan, rejeki dan keselamatan.  Gong xi fa cai !! (bungakrisan)

 

Share
Chrysanthi Tarigan

About Chrysanthi Tarigan

bungakrisan comes from my name Chrysanthi or Chrysanthemum, meaning Chrysanthemum flower. My dad who passed away in 1999 gave me the name because he wanted me to grow like the flower. Chrysanthemum is very useful for human life because it can be medicine, tea or even for decoration. That's probably what my daddy wanted me to be. When I was kid, he looked at me and told me that he wanted me to be a writer which something I did not know how to do it. I created this blog to honor my daddy...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *