Napak Tilas Situs di Gunung Munara Rumpin

Memang ada Gunung Munara dengan banyak situs di Rumpin?  Begitu selalu pertanyaan orang-orang yang saya ceritakan mengenai gunung ini?  Maklum, Rumpin yang terletak di Kabupaten Bogor ini terkenal dengan penambangan pasirnya.  Gunung-gunung disana lebih banyak untuk dibelah dan dieksplorasi untuk kepentingan bahan-bahan bangunan seperti batu, pasir dan lain sebagainya.

Penambangan untuk bahan-bahan bangunan di Rumpin, Bogor (bungakrisan)
Penambangan untuk bahan-bahan bangunan di Rumpin, Bogor (bungakrisan)
Bukit yang sudah terpapas ini adalah bekas tambang Pabrik Keramik Toto (bungakrisan)
Bukit yang sudah terpapas habis ini adalah bekas tambang Pabrik Keramik Toto (bungakrisan)

Tetapi ada satu bukit kecil yang menyimpan banyak sejarah.  Gunung Munara begitu orang menyebutnya.  Disebut Munara karena masyarakat setempat percaya bahwa bukit ini adalah masjid yang terdapat sebuah batu dimana bentuknya seperti menara masjid atau terkenal dengan Batu Adzan.

Batu yang disebut dengan Batu Adzan ataupun menara masjid (bungakrisan)
Batu yang disebut dengan Batu Adzan ataupun menara masjid (bungakrisan)

Menurut keyakinan masyarakat setempat, Batu Adzan atau Menara Masjid ini tempat Sultan Maulana Hasanuddin dari Banten mengumandangkan Adzan.  Bahkan beberapa orang mengatakan bahwa mereka sering mendengar sayup-sayup adzan dari arah batu tersebut.  Entah benar atau tidak.

Gunung Munara ini sendiri sebenarnya adalah bukit dengan ketinggian 367 mdpl. Cukup pendek untuk ukuran gunung sehingga dapat ditempun pulang-pergi dalam waktu sehari.

Ketinggian Gunung Munara hanyalah 367 mdpl dan lebih cocok disebut bukit (bungakrisan)
Ketinggian Gunung Munara hanyalah 367 mdpl dan lebih cocok disebut bukit (bungakrisan)

Gunung Tempat Bertapa

Sampai saat ini belum diketahui mengapa banyak sekali orang jaman dahulu yang bertapa disini.   Namun jejak-jejak pertapaan ada di Gunung Munara sampai dengan puncaknya.  Situs pertama yang kita temui sebelum menuju puncak adalah Gadokan Kuda Sembrani.  Konon, para petapa biasanya menggunakan kuda untuk datang ke gunung ini.  Karena kuda tidak dapat naik sampai ke puncak, maka binatang tersebut di tali untuk beristirahat di goa ini.

Di Goa inilah para petapa mengikatkan kudanya dan meneruskan ke tempat pertapaan dengan berjalan kaki (bungakrisan)
Di Goa inilah para petapa mengikatkan kudanya dan meneruskan ke tempat pertapaan dengan berjalan kaki (bungakrisan)
Pohon besar penanda Gadogan Kuda Sembrani (bungakrisan)
Pohon besar penanda Gadogan Kuda Sembrani (bungakrisan)

Menurut Jajat, penjaga Gunung Munara, kadang di Goa ini masih bau pipis kuda.  “Sebagian orang percaya bahwa bau pipis kuda ghaib ini artinya ada petapa yang sedang naik dan meninggalkan tumpangannya disini,” ujar Jajat.

Tak jauh dari sini, kita akan menjumpai Goa tempat Sultan Hasanudin bertapa.  Sultan Maulana Hasanuddin adalah putera dari Sunan Gunung Djati yang berpengaruh dalam penyebaran Islam di Banten (baca juga : Wisata Sejarah Banten, Cantik namun Terpuruk) .  Ada juga bekas-bekas tapak tongkat Sultan Hasanudin di dinding-dinding goa.  Setiap situs disini ditandai dengan tulisan yang dipasang di dinding batu.

Goa tempat Sultan Hasanudin bertapa (bungakrisan)
Tanda penunjuk yang ditempel di dinding batu goa (bungakrisan)
Situs Tapak Tongkat Sultan Hasanudin (bungakrisan)
Situs Tapak Tongkat Sultan Hasanudin (bungakrisan)
Goa tempat Sultan Hasanudin bertapa (bungakrisan)
Goa tempat Sultan Hasanudin bertapa (bungakrisan)

Selain Sultan Hasanudin, Presiden RI pertama, Soekarno juga menjadikan Gunung Munara sebagai tempatnya bersemedi.  Goa tempat Soekarno bertapa ini lebih tersembunyi letaknya.  Selain itu, untuk masuk ke dalamnya harus melalui celah-celah batu.  Setelah masuk, maka dapat kita temukan goa yang dapat muat untuk sekitar 15 orang.

Celah di bawah batu inilah tempat Presiden RI pertama, Soekarno bertapa (bungakrisan)
Celah di bawah batu inilah tempat Presiden RI pertama, Soekarno bertapa (bungakrisan)

Situs yang Tidak Terlihat Wujudnya

Selain goa tempat bertapa yang dapat kita lihat kasat mata, banyak juga situs yang tidak dapat terlihat dengan mata telanjang.  Dekat dengan goa tempat Bung Karno bertapa, terdapat situs Batu Quran.  Menurut Jajat, banyak sekali orang-orang ‘yang tidak biasa’ yang berziarah ke tempat ini mengatakan bahwa ada Quran suci dalam batu tersebut.  “Biasanya para peziarah naik gunung ini untuk bertapa dalam Goa Soekarno.  Mereka mengatakan kepada saya bahwa di Batu Quran itu ada Quran nya.  Saya percaya bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dilihat manusia biasa seperti kita,” cerita Jajat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Situs Batu Quran yang wujudnya tak nampak (bungakrisan)
Jalan yang harus dilewati untuk menuju Batu Quran (bungakrisan)
Jalan yang harus dilewati untuk menuju Batu Quran (bungakrisan)

Tangan dan Kaki Kabayan

Yang ini bukan situs.  Tetapi masyarakat setempat percaya bahwa jejak kaki dan tangan yang besar itu adalah bekas kaki dan tangan Kabayan, tokoh fiksi Sunda. Dimas, anak desa setempat yang sering menjadi guide bagi pengunjung Gunung Munara percaya benar bahwa jejak tersebut bekas Kabayan.  “Jejak kaki satunya ada di Sawarna, Banten,” kisahnya kepada para pengunjung yang datang.

Kotor, Penuh Pungli dan Coretan

Sayangnya, Gunung Munara belum terkelola dengan baik. “Saat ini masih dikelola oleh desa.  Saya sendiri diminta desa untuk menjaga Gunung ini baru beberapa bulan belakangan karena banyaknya coretan-coretan di tembok.  Saya tidak pernah mengerti kenapa banyak yang tidak bertanggung jawab menulis-nulis sembarangan di tembok, padahal hukumannya berat loh.” keluh Jajat.

Tidak hanya coretan, sampah-sampah juga banyak berserakan karena dibuang sembarangan oleh pengunjung.  Plastik, kertas, bekas makanan terdapat di sepanjang jalan.  “Taman-taman disini (Taman Belek, Taman Kejayaan, Taman Putri) menangis karena sekarang banyak sampah,” keluh Dimas.

Gunung ini memang awalnya hanya didatangai oleh pengunjung yang hendak bersziarah.  “Tahun lalu, desa promosi gunung ini di internet.  Lalu mulai banyak pengunjung dan Gunung ini jadi ramai sekali,” tambah Dimas.

Naik ke gunung ini memang resminya relatif murah.  Kita hanya disuruh membayar pada Pos awal naik gunung dan Pos 3.  Tetapi, banyak pungli-pungli tidak resmi berkeliaran disini. Masuk awal ke desa saja sudah ada yang meminta Rp.5000 untuk melewati mereka.  Kemudian di warung-warung di atas gunung, beberapa penjual meminta kita memasukkan uang ke ember dengan alasan membantu anak yatim.    Kemudian ada juga yang hanya minta uang dan mengaku sebagai anak yatim.  Jadi jika ingin pergi ke gunung ini, siapkan uang receh yang banyak sehingga kita dapat membayar pungli-pungli ini (bungakrisan)

Batu ini disebut juga dengan Batu Belah yang berada di puncak (bungakrisan)
Batu ini disebut juga dengan Batu Belah yang berada di puncak (bungakrisan)

 

 

Share
Chrysanthi Tarigan

About Chrysanthi Tarigan

bungakrisan comes from my name Chrysanthi or Chrysanthemum, meaning Chrysanthemum flower. My dad who passed away in 1999 gave me the name because he wanted me to grow like the flower. Chrysanthemum is very useful for human life because it can be medicine, tea or even for decoration. That's probably what my daddy wanted me to be. When I was kid, he looked at me and told me that he wanted me to be a writer which something I did not know how to do it. I created this blog to honor my daddy...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *