Andai Gunung Krakatau Tidak Pernah Meletus

Di tengah Selat Sunda, Gunung Krakatau itu aktif mengeluarkan asap.  Gunung yang tumbuh 6 meter dalam setahun ini mulai muncul permukaan laut sejak 1929 setelah sang ibu meledakkan dirinya selama dua hari dimulai sejak 26 Agustus 1883.  Sang anak yang baru lahir ini tumbuh dari kedalaman laut 180 m dan pada 27 Desember 1927 sampai dengan 15 Januari 1929 dan letupannya menyerupai air mancur yang terus menerus terlihat di permukaan laut.  Aktivitas gunung ini terjadi setiap hari sejak 1992 sampai dengan 2001.  Masa istirahat diperkirakan terjadi 1-8 tahun dan letusannya terjadi 4 tahun sekali.  Tercatat, Gunung Anak Krakatau meletus 16 kali pada Desember 1927-Agutus 1930, 43 kali pada 1931-1960 dan 13 kali pada 1961-2000.

Baca juga:  Belajar Berkawan dengan Semesta Alam dari Suku Baduy

Gunung Anak Krakatau memiliki pasir dan bebetuan hitam (bungakrisan)
Gunung Anak Krakatau memiliki pasir dan bebetuan hitam (bungakrisan)

“Mendingan setiap hari ada gempa kecil, daripada diam trus tiba-tiba meletus,” ujar seorang warga Banten.  Ketakutan ini memang beralasan karena sang gunung yang terus tinggi setiap tahunnya dan juga mengingat bagaimana sang ibu mengubah dunia ketika meletus ratusan tahun lalu.  Letusan Gunung Krakatau kekuatannya 10.000 kali lebih hebat dari bom Hirohima dan Nagasaki (baca juga Jejak Sejarah dalam Mengenang Hiroshima).   Debu dari letusan menembus jarak hingga 90km dimana hamburannya tampak di langit Norwegia dan New York.  Matahari redup dan terjadi tsunami terjadi sampai 40m vertikal.  Benda-benda keras berhamburan sampai ke negara lain seperti wilayah India dan Australia. Korban diperkirakan lebih dari 35.000 jiwa.

Letusan Krakatau adalah yang ketiga terbesar di Indonesia setelah Gunung Toba dan Gunung Tambora.  Namun, pada saat Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat dan ilmu pengetahuan serta teknologi berkembang.  Meletusnya Krakatau merupakan bencana terbesar pertama setelah telegraf bawah laut ditemukan pertama kalinya.  Letusan gunung ini menghilangkan  Gunung Danan dan Perbuwatan yang berada di dekatnya.  Sisa Gunung Krakatau purba menjadi  Pulau Panjang, Pulau Sertung, dan Pulau Rakata besar serta kaldera yang terletak di tengah ketiga pulau tersebut.

Gunung Rakata dan Gunung Krakatau yang berdampingan (bungakrisan)
Gunung Rakata dan Gunung Krakatau yang berdampingan (bungakrisan)

Letusan Gunung di Indonesia yang dampaknya sangat besar memang banyak mengubah dunia.  Sebutlah bagaimana meletusnya Gunung Tambora membuat terciptanya roda dan tokoh Frankenstein.  Begitu pula dengan Gunung Krakatau.  Andai Krakatau tidak meletus saat itu, apa yang terjadi?

1.Eropa Tidak Pernah Memasuki Era “Dark Age” 

Letusan Krakatau dikabarkan membuat perubahan iklim dunia.  Dunia gelap karena debu menutupi atmosfer dan suhu di dunia juga turun beberapa derajat.  Lalu apa hubungannya dengan Dark Age atau Masa Kegelapan di Eropa?  Rupanya, kondisi perubahan iklim inilah yang kemudian menyebabkan wabah penyakit menjangkit dan panen gagal dimana-dimana.  Dengan kelaparan dan kemiskinan yang diderita, Kaum Barbar yang memang memiliki ambisi untuk menguasai kekayaan Kerajaan Romawi memanfaatkan kondisi tersebut dengan bermigrasi dan menyerang berbagai lini.

2.  Edvard Munch Tidak Akan Melahirkan Karya “The Sream”

Seniman Norwegia, Edvard Munch terkenal dengan lukisannya “The Scream” yang saat ini tersimpan di National Gallery, Oslo, Norwegia.  Lukisan yang merupakan salah satu lukisan termahal di dunia ini terinspirasi dari letusan Krakatau.  Warna langit yang berwarna merah merupakan gambaran dari dampak letusan Krakatau.  Dapat dibayangkan, letusan terse but membuat langit di Eropa berwarna merah terang, layaknya kiamat kecil.

3.  Kamu Tidak Bisa Bergaya dengan Stone-Washed Jeans.  

Jeans ini dicuci ke dalam mesin cuci khusus bersamaan dengan batu apung sehingga mendapatkan efek fading yang khas.  Letusan Krakatau menghasilkan batu apung yang menyebar ke berbagai penjuru termasuk melintasi  Pasifik ke Hawai.  Batu tersebut kemudian digunakan untuk membuat stone-washed jeans Levis.

4.  Pulau Sumatera Tidak Ada

Sebuah teks Jawa Kuno berjudul “Pustaka Raja Parwa” menggambarkan keadaan pada saat itu.  Dalam teksnya mengatakan  “Ketika air meneggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatra”.  Jawa dulunya menjadi satu, dan karena letusan Krakatau maka terciptalah Pulau Sumatera dan Selat Sunda.

5.  Lengkapnya Sejarah Kerajaan Jawa dan Sumatera

Karena letusan maha dahsyat ini, terjadi “missing link” kesenjangan sejarah selama 100-200 tahun, khususnya kerajaan-kerajaan Jawa dan Sumatera.  (bungakrisan)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Share
Chrysanthi Tarigan

About Chrysanthi Tarigan

bungakrisan comes from my name Chrysanthi or Chrysanthemum, meaning Chrysanthemum flower. My dad who passed away in 1999 gave me the name because he wanted me to grow like the flower. Chrysanthemum is very useful for human life because it can be medicine, tea or even for decoration. That's probably what my daddy wanted me to be. When I was kid, he looked at me and told me that he wanted me to be a writer which something I did not know how to do it. I created this blog to honor my daddy...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *