Aku yang Selalu Rindukan Gunung Bromo

Selalu ada rasa ingin kembali menjejakkan kaki ke Gunung Bromo setiap kali kembali ke kampung halaman.  Sejak kecil, gunung ini selalu menjadi tujuan keluarga saya yang tinggal di Malang, Jawa Timur (baca juga: Teluk Bidadari di Malang, Tempat Mandinya Para Peri) untuk menghabiskan liburan.  Selain karena Gunung Kidung Tengger ini menyisakan memori masa kecil.  Ada sepenggal keindahan yang membuat Bromo selalu dirindukan.

The Golden Sunrise 

Tidak ada yang lebih indah selain menyaksikan matahari yang menyembul dari awan putih dengan kilatan warnanya yang memukau mata.  Di Bromo, wisatawan rela untuk menunggu sejak jam 3 pagi untuk melihat sang surya mulai menyinari bumi.

Wisatawan sudah tiba di Gunung Bromo untuk menunggu sang matahari terbit (bungakrisan)
Wisatawan sudah tiba di Gunung Bromo untuk menunggu sang matahari terbit (bungakrisan)

Di Penanjakan 1, salah satu spot terbaik melihat matahari terbit di ketinggian 2770 mdpl.  Disini, matahari menampakkan dirinya di tengah-tengah kabut yang menutupi pepohonan.  Di Gunung Penanjakan ini pula, sebuah bingkai yang memperlihatkan Kawah Bromo, Gunung Batok, Gunung Kursi dan Gunung Semeru.

Ketika Matahari mulai muncul dan kabut perlahan turun (bungakrisan)
Ketika Matahari mulai muncul dan kabut perlahan turun (bungakrisan)
Warna emas yang indah menghiasi pandangan mata (bungakrisan)
Warna emas yang indah menghiasi pandangan mata (bungakrisan)
Dan gunung batok perlahan muncul ketika matahari mulai datang (bungakrisan)
Dan gunung batok perlahan muncul ketika matahari mulai datang (bungakrisan)
Matahari mulai sempurna membangunkan seluruh mahluk bumi (bungakrisan)
Matahari mulai sempurna membangunkan seluruh mahluk bumi (bungakrisan)

Tempat Matahari Terdekat 

Malam yang menggigil, siang yang menyengat.  Di malam hari, suhu rata-rata adalah 5°C dan bahkan bisa kurang dari 0°C.  Siang hari, walaupun suhu rata-rata adalah 22°C, namun padang pasir dan kawah yang bergolak menambahkan hawa panasnya.

Istimewanya, perasaan menyengat akan bertambah karena matahari seakan ada di depan mata.  Bulat sempurna menyinari setiap sudut Gunung Bromo.

Matahari seakan berada di depan mata, bulat dan sempurna (bungakrisan)
Matahari seakan berada di depan mata, bulat dan sempurna (bungakrisan)
Padang pasir dan matahari di depan mata, rasanya seperti melihat lukisan (bungakrisan)
Padang pasir dan matahari di depan mata, rasanya seperti melihat lukisan (bungakrisan)
Semakin siang, matahari semakin naik sempurna (bungakrisan)
Semakin siang, matahari semakin naik sempurna (bungakrisan)

250 Anak Tangga yang Menantang

Sesuatu yang indah memang tidak pernah didapatkan dengan cara yang mudah.  Pun ketika kita ingin menuju bibir kawah Bromo yang suaranya selalu menggelegar itu.  Selain harus melewati padang pasir, berjalan menanjak, kita juga harus melalui 250 tangga untuk sampai ke bibir kawah.  Di saat musim liburan, naik ke tangga ini haruslah mengantri dengan sabar.

Harus melewati padang pasir yang kering untuk menuju tanjakan awal ke tangga kawah (bungakrisan)
Harus melewati padang pasir yang kering untuk menuju tanjakan awal ke tangga kawah (bungakrisan)
Dengan sabar mendaki di tengah panas matahari (bungakrisan)
Dengan sabar mendaki di tengah panas matahari (bungakrisan)
Melewati 250 tangga sambil melihat asap yang muncul dari kawah Bromo (bungakrisan)
Melewati 250 tangga sambil melihat asap yang muncul dari kawah Bromo (bungakrisan)

Gunung diatas Gunung

Walaupun Bromo merupakan gunung api yang masih aktif, di kawasan padang pasirnya terdapat empat gunung yang sudah mati dan tak kalah menakjubkan.  Gunung yang paling terkenal dan sering menjadi icon pariwisata adalah Gunung Batok (2.470 mdpl), Gunung Widodaren (2.650 mdpl) yang puncaknya menjadi tempat pertapaan Suku Tengger, Gunung Kursi (2.581mdpl) dan Gunung Watangan (2.662 mdpl)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Suku Tengger dan Kudanya

Suku Tengger yang tinggal gunung ini, dipercaya sebagai keturunan dari pengungsi Kerajaan Majapahit pada abad ke-16 ketika diserang kerajaan Islam yang dipimpin oleh Raden Patah. Mereka lari dimana sebagian  menuju Pulau Bali dan sebagian lainnya menempati sebuah kawasan pegunungan di Jawa Timur yang kita kenal sebagai Suku Tengger.

Baca juga:

Belajar Berkawan dengan Semesta Alam dari Suku Baduy

Seba Baduy:Titipkan Amanat pada Pemimpinnya

Suku Tengger sendiri percaya bahwa  alkisah seorang putri dari Kerajaan Majapahit bernama Roro Anteng dan putra seorang Brahmana yaitu Joko Seger  menikah dan turut menjadi pengungsi di Pegunungan Tengger. Mereka kemudian menjadi menjadi pemimpin dengan gelar Purbawisesa Mangkurat Ing Tengger  dimana keturunannya  menjadi Suku Tengger.

Suku Tengger setiap harinya bertani, setinggi apapun sekolah mereka.  Selain itu, mereka juga terdampak dari pariwisata kawasan Bromo ini dengan menyewakan jeep dan kuda.  Kuda-kuda itulah yang menjadi ciri khas Suku Tengger.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Hamparan Padang Pasir

Padang pasir dengan luas 5.920 hektar ini merupakan kaldera (bekas letusan Gunung Bromo).  Di hamparan yang terkenal dengan pasir berbisik ini, angin meniupkan pasirnya di tengah-tengah aktivitas manusia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gunung Bromo, aku rindu….. (bungakrisan)

Share
Chrysanthi Tarigan

About Chrysanthi Tarigan

bungakrisan comes from my name Chrysanthi or Chrysanthemum, meaning Chrysanthemum flower. My dad who passed away in 1999 gave me the name because he wanted me to grow like the flower. Chrysanthemum is very useful for human life because it can be medicine, tea or even for decoration. That's probably what my daddy wanted me to be. When I was kid, he looked at me and told me that he wanted me to be a writer which something I did not know how to do it. I created this blog to honor my daddy...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *