Menengok Desa Nelayan di Tangerang dan Jakarta

Ingin melihat kehidupan di desa nelayan?  Tidak jauh dari Tangerang, terdapat Pantai Tanjung Kait yang merupakan desa dimana mayoritas penduduknya adalah nelayan.   Di sekitar pantai ini, kapal-kapal nelayan dikaitkan dan para nelayan bekerja menyiapkan jala-jala untuk mencari ikan di malam hari.  Pantai Tanjung Kait terletak di Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Tangerang.  Jika kita berangkat dari Tangerang Selatan, hanya dibutuhkan 1,5-2 jam untuk tiba di pantai ini.

Baca juga: Warna Air di Danau Biru Cigaru Cisoka

Di desa nelayan ini, jala-jala disiapkan untuk alat mencari ikan di malam hari (bungakrisan)
Di desa nelayan ini, jala-jala disiapkan untuk alat mencari ikan di malam hari (bungakrisan)
Hasil mencari ikan dan bintang laut lainnya langsung ditimbang untuk dijual ke pasar (bungakrisan)
Hasil mencari ikan dan bintang laut lainnya langsung ditimbang untuk dijual ke pasar (bungakrisan)

Selain sebagai tempat nelayan menyiapkan kapalnya untuk berlabuh, Pantai Tanjung Kait juga menjadi favorit dari komunitas memancing.  Di pinggir pantai sampai menjorok ke laut, bagan-bagan untuk tempat memancing dibangun.  Banyak sekali komunitas memancing yang menginap di bagan-bagan tersebut dengan cara menyewa dari para nelayan.  Biasanya, paketnya menjadi satu dengan antar-jemput kapal.

Bagan-bagan memancing yang dipasang di pinggir pantai sampai menjorok ke laut (bungakrisan)
Bagan-bagan memancing yang dipasang di pinggir pantai sampai menjorok ke laut (bungakrisan)

Jika kita berkunjung kesini, salah satu pilihan yang paling pas adalah makan ikan ataupun makanan laut lainnya yang segar karena langsung dari nelayannya.  Kita dapat menikmati makanan laut tersebut di saung-saung terapung yang telah disiapkan oleh penjualnya.  Tidak ada yang lebih nikmat daripada makan langsung hasil laut yang segar bukan?

Saung terapung ini disediakan untuk kita makan hasil laut yang segar (bungakrisan)
Saung terapung ini disediakan untuk kita makan hasil laut yang segar (bungakrisan)

Jika masih kurang puas dengan menjelajah Pantai Tanjung Kait, kita dapat menyeberang pulau dengan menyewa kapal dari para nelayan.  Harganya tergantung dari seberapa jauh pulau yang akan kita kunjungi.  Pulau yang terdekat adalah Pulau Laki dan Pulau Lancang.  Pulau Laki merupakan pulau tak berpenghuni yang sering dipakai orang untuk memancing.  Sekitar 30 menit dari pulau tersebut, kita dapat menemukan Pulau Lancang yang juga desa nelayan.

Kapal-kapal nelayan yang dikaitkan di anjungan ini juga dapat disewa untuk menyeberang pulau
Kapal-kapal nelayan yang dikaitkan di anjungan ini juga dapat disewa untuk menyeberang pulau
Harga kapal-kapal yang disewakan tergantung dari jauhnya pulau (bungakrisan)
Harga kapal-kapal yang disewakan tergantung dari jauhnya pulau (bungakrisan)
Begini bentuk kapal kayu yang disewakan untuk menyeberang pulau (bungakrisan)
Begini bentuk kapal kayu yang disewakan untuk menyeberang pulau (bungakrisan)

Pulau Lancang Besar, Desa Nelayan yang Tertata Rapi

Sekitar 45 menit-1 jam dari Pantai Tanjung Kait, kita dapat menyeberang dengan menggunakan kapal kayu.  Pulau yang termasuk dalam Kelurahan Pulau Pari, Kecamatan Kepulauan Seribu, Jakarta ini luasannya hanyalah 15,13 hektar.  Pada tahun 1933, pulau ini dihuni oleh tiga orang saja dan kemudian berkembang sampai sekitar 1500 penduduk tinggal di pulau ini.  Pulau Lancang Kecil sudah dimiliki oleh swasta sehingga tidak boleh sembarangan kapal berlabuh disini.

Pulau Lancang Besar terlihat dari jauh (bungakrisan)
Pulau Lancang Besar terlihat dari jauh (bungakrisan)
Dermaga terapung di Pulau Lancang (bungakrisan)
Dermaga terapung di Pulau Lancang (bungakrisan)
Pulau Lancang Besar merupakan wilayah dari Kepulauan Seribu yang merupakan kabupaten administratif DKI Jakarta (bungakrisan)
Pulau Lancang Besar merupakan wilayah dari Kepulauan Seribu yang merupakan kabupaten administratif DKI Jakarta (bungakrisan)

Penduduk disini rata-rata berprofesi sebagai nelayan, dimana teri dan anjungan menjadi andalannya.  Beberapa rumah di Pulau Lancang menjadi tempat perebusan teri dan rajungan. Nelayan dari Pantai Tanjung Kait juga sering mencari anjungan di sekitar Pulau Lancang jika musimnya tiba .

Pulau kecil ini sangat tertata rapi dan bersih.   Tidak nampak sampah berceceran di pulau ini.  Penduduknya juga cukup ramah menyapa pengunjung yang datang.  Puskesmas, sekolah, dan fasilitas lainnya sudah lengkap di pulau yang terpencil ini.  Tampak beberapa motor seliweran, tetapi warga biasanya memilih berjalan kaki untuk menuju satu tempat ke tempat yang lain.

Di pulau ini, fasilitas untuk masyarakat sudah lumayan lengkap (bungakrisan)
Di pulau ini, fasilitas untuk masyarakat sudah lumayan lengkap (bungakrisan)
Rumah-rumah tertata rapi dan jalanan yang sangat bersih, jauh dari sampah yang berserakan (bungakrisan)
Rumah-rumah tertata rapi dan jalanan yang sangat bersih, jauh dari sampah yang berserakan (bungakrisan)
Transportasi utama adalah sepeda motor, tetapi masyarakat lebih memilih berjalan kaki (bungakrisan)
Transportasi utama adalah sepeda motor, tetapi masyarakat lebih memilih berjalan kaki (bungakrisan)

Sampah-sampah hanya kita temui pada saat kita berada di pinggiran pantai.  Sampah-sampah ini berasal dari laut yang kemudian tertinggal disini.  Pada saat saya kesana, tampak Pasukan Oranye bekerja keras membersihkan sampah di siang yang terik.  Mereka mengatakan bahwa sampah-sampah ini akan diambil seminggu sekali oleh sebuah kapal untuk dikelola di Jakarta.

Pasukan Oranye yang tak bekerja keras membersihkan sampah di pinggir pantai (bungakrisan)
Pasukan Oranye yang bekerja keras membersihkan sampah di pinggir pantai (bungakrisan)
Sampah-sampah dari Pulau Lancang diangkut seminggu sekali dan dikelola di Jakarta (bungakrisan)
Sampah-sampah dari Pulau Lancang diangkut seminggu sekali dan dikelola di Jakarta (bungakrisan)

Walaupun tinggal di pulau yang terpencil, anak-anak disini tidak kehilangan masa kecilnya.  Mereka terkadang menuju laut untuk mencari ikan ataupun berenang di pinggiran pantai.  Pulau ini juga memiliki taman bermain bagi anak-anak agar mereka dapat bermain bersama teman-temannya.

Anak-anak disini sudah bisa mencari ikan sendiri (bungakrisan)
Anak-anak disini sudah bisa mencari ikan sendiri (bungakrisan)
Selain mencari ikan, berenang menjadi alternatif bagi anak-anak untuk bersenang-senang (bungakrisan)
Selain mencari ikan, berenang menjadi alternatif bagi anak-anak untuk bersenang-senang (bungakrisan)
Taman bermain ini menjadi pusat kumpulnya warga sembari menjaga anak-anaknya bermain (bungakrisan)
Taman bermain ini menjadi pusat kumpulnya warga sembari menjaga anak-anaknya bermain (bungakrisan)

Untuk menjaga ekosistem dan pemecah ombak, Hutan Mangrove menjadi andalan dari Pulau Lancang.  Tampak di pinggir pantai dan sekitar pulau, mangrove ditanam dengan suburnya. (bungakrisan)

Hutan mangrove di Pulau Lancang Besar (bungakrisan)
Hutan mangrove di Pulau Lancang Besar (bungakrisan)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

 

Share
Chrysanthi Tarigan

About Chrysanthi Tarigan

bungakrisan comes from my name Chrysanthi or Chrysanthemum, meaning Chrysanthemum flower. My dad who passed away in 1999 gave me the name because he wanted me to grow like the flower. Chrysanthemum is very useful for human life because it can be medicine, tea or even for decoration. That's probably what my daddy wanted me to be. When I was kid, he looked at me and told me that he wanted me to be a writer which something I did not know how to do it. I created this blog to honor my daddy...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *