Curug Leuwi Hejo yang Berkelok

Berawal dari hobi hiking, saya dan suami memutuskan pergi ke Curug Leuwi Hejo yang saat ini sedang ramai dibicarakan.  Letaknya sekitar 10 km dari Kawasan Sentul City tepatnya di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.    Masyarakat setempat dulunya menyebut Leuwi Hejo ini dengan sebutan Curug Bengkok karena air yang terjun dari curug ini tidak lurus.  Air yang melintas juga turun menuju sungai yang berkelok-kelok dengan indahnya.

Maka, hiking dimulai setelah lapangan parkir mobil. Berjalan sekitar 15-20 menit dan tibalah di curug mini ini.  Perjalanan kita tidak akan melelahkan karena pemandangan sawah dan sungai serta gemericik air melepaskan kepenatan dari keseharian hidup di ibu kota.  Warga sekitar juga sangat ramah, mereka menyapa kita sembari menunjukkan arah menuju curug.  Para petani membawa peralatan pertanian dan rumput untuk pakan sapi dan kambing mereka.

Jalan bebatuan menuju Curug Leuwi Hejo (bungakrisan)
Jalan bebatuan menuju Curug Leuwi Hejo (bungakrisan)
Track awal dan siaplah berkeringan (bungakrisan)
Track awal dan siaplah berkeringan (bungakrisan)
Sungai dan sawah di sepanjang perjalanan (bungakrisan)
Sungai dan sawah di sepanjang perjalanan (bungakrisan)
Seperti sungai yang kering dan tersisa batunya. Jalan ini juga menjadi pengalaman hiking yang berbeda (bungakrisan)
Seperti sungai yang kering dan tersisa batunya. Jalan ini juga menjadi pengalaman hiking yang berbeda (bungakrisan)
Sungainya yang berkelok-kelok
Sungainya yang berkelok-kelok (bungakrisan)

Pada akhir pekan, banyak sekali para remaja yang datang kesini dengan mengendarai motor.  Mereka asik berenang dan loncat dari atas curug ke kolam yang warnanya hijau.  Di warung-warung sekitar curug, para pedagang menjual sarung handphone anti air. Beberapa wisatawan nampak menggunakannya untuk mengambil gambar dari dalam kolam.  Apakah benar-benar anti air, entahlah, saya tidak berani mencobanya. Ruang ganti, toilet dan tempat sholat juga tersedia dan cukup bersih.  Pengelola juga menyediakan tempat penitipan tas walaupun pengunjung yang datang lebih memilih meletakkan tasnya di bebatuan.

Beberapa tali disediakan pengelola agar yang tidak bisa berenang berpegangan pada tali tersebut.  Kolamnya sendiri memiliki kedalaman 3,5 meter.  Belum ada informasi pasti apa yang menyebabkan kolam ini berwarna hijau.

Curug Leuwi Hejo yang bersembunyi di balik bebatuan
Curug Leuwi Hejo yang bersembunyi di balik bebatuan (bungakrisan)
Loncat dari curug ke kolam yang hijau (bungakrisan)
Mereka yang bersenang-senang dengan meloncat dari curug ke kolam yang hijau (bungakrisan)
Berenang di alam terbuka memang beda sensasinya
Berenang di alam terbuka memang beda sensasinya (bungakrisan)

Curug Leuwi Hejo berada dalam kawasan beberapa curug yang dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Sejahtera di desa ini.  Terdapat 5 Curug di kawasan ini yaitu Leuwi Hejo, Leuwi Barong, Leuwi Cepet, Kembar dan Leuwi Liyek.  Banyak sekali bebatuan di daerah ini.  Pada awal tahun lalu (Februari 2016) empat pengunjung terluka karena tertimpa batu akibat longsor.  Karenanya, tetap kita harus berhati-hati dan selalu waspada ketika berada di alam terbuka.

Menurut Wa, seorang pemuda sekitar yang menjadi tukang parkir di wilayah ini, sebelum menjadi tempat wisata, masyarakat sekitar memanfaatkan curug ini untuk mandi. “Curug ini baru dibuka pada 2014 setelah dibeli Pak Lurah (desa) dan sekarang tambah ramai dengan wisatawan,” jelas Wa.

Dekat dengan Curug Leuwi Hijau, kita bisa mampir di Curug Cakrawardhana.  Banyak saung-saung bagus sebelum kita sampai di Curug Cakrawardhana.  Sayangnya kosong, hanya beberapa terisi oleh pedagang.  Curug ini tidak banyak yang mengunjungi dan tidak seramai Leuwi Hejo tetapi cukup menghibur karena lebih terbuka walaupun airnya tidak deras.

Curug Cakrawardhana yang lebih sepi pengunjung
Curug Cakrawardhana yang lebih sepi pengunjung (bungakrisan)
Saung-saung yang sepi tapi tertata rapi (bungakrisan)
Saung-saung yang sepi namun tertata rapi (bungakrisan)

Lokasi ini dapat ditempuh melalui Sentul maupun Citeureup.  Sayangnya, seperti halnya tempat wisata yang lain, akses jalan sempit dan banyak yang rusak.  Terutama akses dari Citeurup akan sering sekali berpapasan dengan truk-truk yang ugal-ugalan.  Semoga pengembangan wisata Indonesia juga disertai perbaikan infrastuktur sehingga lebih banyak wisatawan datang.  (bungakrisan)

Curug Leuwi Hejo

curug-16

 

Share
Chrysanthi Tarigan

About Chrysanthi Tarigan

bungakrisan comes from my name Chrysanthi or Chrysanthemum, meaning Chrysanthemum flower. My dad who passed away in 1999 gave me the name because he wanted me to grow like the flower. Chrysanthemum is very useful for human life because it can be medicine, tea or even for decoration. That's probably what my daddy wanted me to be. When I was kid, he looked at me and told me that he wanted me to be a writer which something I did not know how to do it. I created this blog to honor my daddy...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *