Bunga Sakura dan Nilai Masyarakat Jepang dalam Melihat Kehidupan

Seorang kakek memainkan harmonika di bawah pohon bunga sakura yang mekar.  Si nenek menari-nari mengikuti alunan musik dan lagu yang dinyanyikan teman-temannya.  Kelopak-kelopak sakura yang gugur menerpa guratan wajah tua yang terlihat bahagia.  Tampak sisa makanan dan minuman yang diletakkan di atas alas piknik.  Seakan tak peduli dengan sekitarnya, para orang tua tersebut asik mengenang kehidupan mereka di masa lalu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Para orang tua bertemu dengan teman-temannya menikmati mekarnya Bunga Sakura dalam hanami (Bunga Krisan)

Sekelompok orang tua tadi adalah gambaran dari apa yang dapat kita lihat ketika musim semi tiba dan sakura sudah mulai mekar.  Mekarnya bunga ini memiliki arti khusus bagi masyarakat Jepang karena menjadi simbol dan representasi nilai kehidupan.  Sakura merupakan bunga nasional bangsa Jepang yang mekarnya bergantian di setiap daerah dimulai pada akhir Maret.  Terdapat sekelompok orang yang melakukan pengamatan sakura memprediksi perkiraan mekar di tiap daerah tersebut.

Bunga Sakura yang baru mulai mekar (bungakrisan)
Bunga Sakura yang baru mulai mekar (bungakrisan)

Mekarnya bunga yang sangat indah ini membuat orang Jepang bergembira.  Kegembiraan ini kemudian dirayakan dengan berkumpul bersama saudara dan teman-teman dengan piknik di bawah pohon sakura.  Tradisi ribuan tahun ini dinamakan dengan hanami yang berarti “melihatnya mekar”.  Sakura dalam bahasa Jepang berarti mekar dalam arti jamak.  Pohon sakura sendiri sebenarnya adalah pohon ceri.  Karena itu mekarnya bunga sakura ini dalam bahasa inggris menjadi cherry blossom.  Perayaan hanami sendiri juga dikenal dengan Cherry Blossom Festival.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Menurut masyarakat Jepang, tradisi ini mulai populer sejak abad VIII dimana panglima perang dan pemersatu Jepang bernama Toyotomi Hideyoshi melakukan hanami.  Piknik ini dilaksanakan dengan mewahnya pada 1598 di Kuil Daigoji yang terletak di Kyoto untuk para bangsawan dan pengikut mereka.  Kemudian pada abad 17, hanami menjadi tradisi masyarakat Jepang.

Tradisi hanami ini telah dilakukan masyarakat Jepang selama ribuan tahun (bungakrisan)
Tradisi hanami ini telah dilakukan masyarakat Jepang selama ribuan tahun (bungakrisan)

Dalam hanami ini, masyarakat Jepang biasanya membawa makanan seperti bento box atau makanan yang dibuat dari rumah, cemilan, serta minuman beralkohol seperti sake dan bir.  Terkadang mereka juga membuat acara reuni mengikatkan tali silaturahmi kepada teman-teman maupun saudaranya yang sudah lama tidak bertemu.  Hanami ini memperlihatkan kegembiraan, membagi beban kesedihan dan perayaan kehidupan manusia.  Bahkan tak jarang mereka juga bertemu dengan orang-orang baru yang dikenalnya pada saat hanami.

Baca juga : 10 Tempat Menikmati Sakura di Jepang

Tak jarang, ada yang bertemu dengan teman baru dalam pesta hanami (bungakrisan)
Tak jarang, ada yang bertemu dengan teman baru dalam pesta hanami (bungakrisan)

Piknik ala hanami ini dilanjutkan malam hari pada saat mereka pulang kerja ataupun selesai beraktivitas.  Lampion-lampion dan lampu berwarna-warni dibuat untuk menerangi bunga sakura di malam hari.  Iluminasi sakura ini dinamakan juga dengan yozakura.

Iluminasi bunga sakura yang dinamakan dengan yozakura (bungakrisan)
Iluminasi bunga sakura yang dinamakan dengan yozakura (bungakrisan)

Bulan April ini juga menjadi penting bagi masyarakat Jepang dimana mereka mulai melakukan penghitungan fiskal.  Tahun awal sekolah juga dimulai pada bulan ini, berbeda dengan kita di Indonesia maupun di negara-negara lain.  Karenanya, cherry blossom ini juga menjadi awal bagi kehidupan masyarakat Jepang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Namun, bunga sakura ini hanya mekar dalam waktu dua minggu dan kemudian mulai berguguran. Karenanya, bunga sakura juga menjadi simbol kematian yang mengingatkan kita bahwa hidup hanya sebentar dan sementara.  Masyarakat Jepang mengharamkan memetik bunga ini karena memang hanya sementara hidupnya.  Ini adalah bagian dari masyarakat Jepang menilai dan menghargai hidup yang kemudian diterapkan di dunia.

Bunga sakura memang bukan sekedar simbol, tetapi juga menjadi pengingat bagi masyarakat Jepang akan nilai-nilai kehidupan di dunia, termasuk bahwa hidup ini hanyalah sementara.  (bungakrisan)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Share
Chrysanthi Tarigan

About Chrysanthi Tarigan

bungakrisan comes from my name Chrysanthi or Chrysanthemum, meaning Chrysanthemum flower. My dad who passed away in 1999 gave me the name because he wanted me to grow like the flower. Chrysanthemum is very useful for human life because it can be medicine, tea or even for decoration. That's probably what my daddy wanted me to be. When I was kid, he looked at me and told me that he wanted me to be a writer which something I did not know how to do it. I created this blog to honor my daddy...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *