Kereta api yang membawa saya pulang dari Yogyakarta ke Malang melintasi Kampung Jodipan sebelum tiba di Stasiun Kotabaru.  Kampung yang berada di pinggir Sungai Brantas yang merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa.  Layaknya pemukiman di pinggir sungai, kampung ini dulunya merupakan lokasi kumuh apalagi letaknya yang berada di bawah jembatan.  Namun terlihat dalam jendela kereta, kampung ini terlihat segar dengan warna-warna cerianya.

Penasaran melihat perubahan Kampung Jodipan, sebelum kembali ke Yogyakarta saya menyempatkan untuk mengunjungi pemukiman ini.  Wilayah ini bukanlah hal yang baru bagi saya yang lahir dan besar di Malang.  Sejak jaman Belanda, Jodipan sudah ada sebagai dan pernah menjadi pusat pemerintahan Kadipaten Malang.  Bahkan, diduga kampung ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Hindu-Budha karena sempat ditemukannya peninggalan arca di wilayah ini.

Baca juga: Teluk Bidadari di Malang, Tempat Mandinya Para Peri

Seiring dengan waktu, Jodipan menjelma menjadi kawasan kumuh layaknya perkampungan yang berada di sisi bantaran sungai.  Namun pada pertengahan tahun 2016, mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Universitas Muhammadyah Malang (UMM) yang tergabung dalam kelompok gyspro mengajukan proposal untuk tugas akhirnya.  Idenya adalah mencat Kampung ini warna warni seperti kampung warna warni di Rio De Jainero, Brasil atau Desa Gamcheon, Korea Selatan agar mengundang wisatawan.  Kehadiran wisatawan ini diharapkan dapat mengubah perilaku masyarakat kampung agar hidup bersih dan sehat.

Baca juga : 8 Jajanan Lezat di Korea Selatan yang Wajib Anda coba

Proposal ini kemudian diajukan kepada perusahaan cat Decofresh untuk menjadi program Corporate Social Responsibility (CSR).  Gayung bersambut, pihak perusahaan pun menyetujui proposal ini dengan nama program “Decofresh Warnai Jodipan”.  Masyarakat, anggota TNI dan mahasiswa pun melakukan pengecetan rumah-rumah di Kampung Jodipan.

Kampung Jodipan menjelma menjadi Kampung warna-warni (bungakrisan)
Kampung Jodipan menjelma menjadi Kampung warna-warni (bungakrisan)

 

Wisatawan seperti sayapun berdatangan melihat-lihat dan berfoto di kampung warna warni ini.  Selain warnanya yang cerah, sepanjang gang di kampung ini diberi hiasan untuk berfoto seperti payung, bunga dan aksesoris lainnya.

Payung-payung yang digantung untuk berfoto (bungakrisan)
Payung-payung yang digantung untuk berfoto (bungakrisan)
Satu Kawasan yang digambar dan dihiasi dengan desain bunga (bungakrisan)
Satu Kawasan yang digambar dan dihiasi dengan desain bunga (bungakrisan)

Apakah Perilaku Masyarakat Berubah?

Masuk ke area Kampung Warna Warni ini bukan gratis tetapi tidak juga mahal.  Cukup dengan membayar Rp. 2000 saja kita dapat melihat-lihat seluruh rumah yang ada di wilayah ini.  Uang yang terkumpul dari tiket masuk inilah yang dikumpulkan untuk biaya pengangkutan sampah.  Masyarakat juga mendapatkan dampak ekonomi dari pengelolaan parkir sampai dengan berjualan makanan dan minuman.

Jika kita lihat di sekitar bantaran sungai, memang lebih bersih dari ketika kampung ini masih kumuh.  Namun, tak juga sebersih yang kita harapkan.  Masih banyak plastik, kertas, botol, sampah organik dan masih banyak lagi dibuang di sekitar sungai.  Entah siapa yang membuang, tetapi ada juga wisatawan yang turut menyumbang sampah dengan membuang sembarangan.

Di beberapa gang sudah terlihat bersih walaupun beberapa masih tercium bau pesing.  Inilah mungkin tantangannya, pada akhirnya masyarakat sendirilah yang harus punya kemandirian untuk mengelola manfaat dari program ini.  Apakah kampung ini dapat tetap menjawab masalah sebelumnya akan kita lihat seiring berjalannya waktu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mengulang Sukses dengan Penciptaan Kampung Tridi

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sukses Kampung Warna Warni ini menjadi contoh bagi wilayah sekitarnya.  Di seberang sungai, kampung sebelah pun ingin mencontohnya.  Masyarakat setempat pun menggagas sebuah kampung dengan lukisan 3D atau di lidah orang Jawa menjadi tridi.  Masih dengan lanjutan program CSR dari Decofresh, maka mulailah gambar-gambar dilukis dan rumah-rumah dicat.

Gang di Kampung Tridi yang telah diwarnai dan dilukis (bungakrisan)
Gang di Kampung Tridi yang telah diwarnai dan dilukis (bungakrisan)

Kampung Tridi ini juga mengeluarkan tiket masuk sedikit lebih mahal dari Kampung Warna Warni yaitu Rp.3000 per orang.  Karena lebih baru, kampung ini belum memperlihatkan tanda-tanda kemajuan. Sampah masih banyak terlihat dan perilaku sanitasi masih perlu peningkatan karena masih ada anak-anak kecil yang buang air kecil sembarangan di sekitar gang (bungakrisan)

 

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

0
Share

Ketika kota gudheg menjadi pilihan liburan, tidak ada salahnya bangun lebih awal untuk menikmati pagi di Yogyakarta yang menyimpan banyak keindahan ini.  Wisata di Yogyakarta memang sudah terkenal sejak dahulu.  Selain budayanya, Yogyakarta juga terkenal dengan peninggalan sejarah masa lalu seperti Candi Borobudur dan Prambanan. Jika ingin menghabiskan liburan di Yogyakarta, beberapa tempat ini dapat menjadi alternatif untuk menikmati pagi hari.

Baca juga : Eloknya Pemandangan Gunung Nglanggeran

Kebun Buah Mangunan

Kebun seluas 23 hektar ini berada di lahan perbukitan di Mangunan, Dlingo, Bantul.   Kebun buah ini dikelola oleh Departemen Pertanian dan Kehutanan Bantul untuk menanam pohon buah seperti belimbing, jambu, durian, kelengkeng, mangga, salak dan sebagainya.  Pohon buah ini ditanam disesuaikan dengan kemiringan bukit.  Sementara lereng bukit ini ditanami pohon besar seperti pinus dan jati.

Menariknya, pada pagi hari, Kebun Buah Mangunan yang terletak di ketinggian 150-200 mdpl ini berkabut.  Sehingga kita dapat naik di puncak bukit mangunan sambil melihat kabut menyelimuti kebun dan merasakan sinar matahari yang baru terbit.

Pengunjung memadati puncak bukit Mangunan untuk menikmati pagi di Yogyakarta (bungakrisan)
Pengunjung memadati puncak bukit Mangunan untuk menikmati pagi di Yogyakarta (bungakrisan)
Matahari mulai turun menyinari Kebun Buah Mangunan (bungakrisan)
Matahari mulai turun menyinari Kebun Buah Mangunan (bungakrisan)

Ketika kabut mulai turun, kita akan melihat dengan jelas Sungai Oya dan Gunung Sewu.  Sungai Oya terlihat berkelok dan panjang. Sungai ini hulunya berada di perbukitan Gajah Mungkur dan ada yang melintasi Goa Pindul.

Ketika kabut turun, maka Sungai Oya pun mulai terlihat (bungakrisan)
Ketika kabut turun, maka Sungai Oya pun mulai terlihat (bungakrisan)

Di Kebun Buah Mangunan ini juga terdapat penangkaran rusa, pembibitan tanaman buah, playground, gazebo, kolam renang dan camping ground.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Bukit Panguk Kediwung

Sekitar 10 menit dari Kebun Buah Mangunan, di Bukit Panguk Kediwung terletak di Dusun Kediwung Desa Mangunan Kecamatan Dlingo, tepatnya di Puncak Bukit Batu Lawang.  Bedanya dengan Kebun Buah Mangunan, disini dibangun gardu pandang di pinggiran bukit yang disebut dengan gardu nginguk.  Nginguk sendiri dalam bahasa Jawa artinya kepala yang sedang melongok. Gardu ini memang menjorok sehingga memungkinkan kita dekat dengan kabut dan matahari terbit sehingga foto yang dihasilkan bagus.

Spot foto yang dibangun di Bukit Panguk (bungakrisan)
Spot foto yang dibangun di Bukit Panguk (bungakrisan)

Bukit Panguk Kediwung ini menjadi salah satu spot menikmati  pagi di Yogyakarta sejak setahun belakangan.  Masyarakat sekitar yang menjadi salah satu petugas penjaga gardu mengatakan bahwa awalnya tempat ini hanyalah hutan dan jurang biasa.  “Waktu itu ada Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari mahasiswa Sekolah Tinggi Masyarakat Pembangunan Desa (APMD) yang melihat tempat ini. Kemudian mereka mulai membangun gardu.  Jadilah tempat ini terkenal,” ujar Iin.

Jika pengunjung ingin menggunakan gardu untuk berfoto, maka akan dikenakan Rp.3000 per gardu.  “Disini ada lima gardu, rata-rata sehari satu gardu menghasilkan Rp. 100 ribu,” jelas Iin.

Satu gardu dikenakan Rp.3000 untuk berfoto dengan durasi sekitar 5 menit (bungakrisan)
Satu gardu dikenakan Rp.3000 untuk berfoto dengan durasi sekitar 5 menit.  Bukit ini menjadi salah satu cara menikmati pagi di Yogyakarta  (bungakrisan)

Saat ini, lokasi Bukit Panguk Kediwung tidak hanya untuk foto pengunjung biasa, tetapi juga digunakan untuk foto pre-wedding dan sebagai lokasi pengambilan film/sinetron.

Bukit Panguk Kediwung juga menjadi tempat pengambilan foto pre-wedding (bungakrisan)
Bukit Panguk Kediwung juga menjadi tempat pengambilan foto pre-wedding (bungakrisan)

Candi Borobudur

Sebenarnya bukan di Yogyakarta, tetapi di Magelang, Candi Borobudur juga menjadi tempat yang cantik untuk menikmati pagi. Candi ini sangat indah apalagi ketika pada saat matahari naik dan kabut mulai turun, tampaklah dengan indahnya Gunung Merapi, Merbabu, Slamet, Sindoro dan Sumbing yang mengelilingi bangunan ini.  Untuk masuk pagi buta ke dalam candi, kita dapat membeli tiketnya yang dikelola oleh Hotel Manohara.  Untuk wisatawan domestik harus membayar Rp. 325 ribu per orang sedangkan wisatawan asing dikenakan Rp. 450ribu.

Lanskap Candi Borobudur sangat indah karena dikelilingi oleh lima gunung besar di Jawa Tengah (bungakrisan)
Lanskap Candi Borobudur sangat indah karena dikelilingi oleh lima gunung besar di Jawa Tengah (bungakrisan)

Jika ingin yang lebih murah, sekitar 10 menit dari Candi Borobudur, terdapat bukit kecil yang Punthuk Setumbu.  Tempat ini menjadi terkenal ketika film AADC2 mengambil lokasi shooting disini.  Tampak dari jauh kabut yang tinggi mulai turun dan memperlihatkan Candi Borobudur.  Tiket masuk ke Punthuk Setumbu adalah Rp.15 ribu per orang.  Setelah menikmati matahari terbit di Punthuk Setumbu, kita dapat jalan turun sekitar 15 menit untuk mengunjungi Gereja Ayam.  Tentu saja, pemandangan yang bagus itu dapat kita nikmati ketika cuaca bagus dan langit tidak begitu berawan (bungakrisan)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

0
Share

Selalu ada rasa ingin kembali menjejakkan kaki ke Gunung Bromo setiap kali kembali ke kampung halaman.  Sejak kecil, gunung ini selalu menjadi tujuan keluarga saya yang tinggal di Malang, Jawa Timur (baca juga: Teluk Bidadari di Malang, Tempat Mandinya Para Peri) untuk menghabiskan liburan.  Selain karena Gunung Kidung Tengger ini menyisakan memori masa kecil.  Ada sepenggal keindahan yang membuat Bromo selalu dirindukan.

The Golden Sunrise 

Tidak ada yang lebih indah selain menyaksikan matahari yang menyembul dari awan putih dengan kilatan warnanya yang memukau mata.  Di Bromo, wisatawan rela untuk menunggu sejak jam 3 pagi untuk melihat sang surya mulai menyinari bumi.

Wisatawan sudah tiba di Gunung Bromo untuk menunggu sang matahari terbit (bungakrisan)
Wisatawan sudah tiba di Gunung Bromo untuk menunggu sang matahari terbit (bungakrisan)

Di Penanjakan 1, salah satu spot terbaik melihat matahari terbit di ketinggian 2770 mdpl.  Disini, matahari menampakkan dirinya di tengah-tengah kabut yang menutupi pepohonan.  Di Gunung Penanjakan ini pula, sebuah bingkai yang memperlihatkan Kawah Bromo, Gunung Batok, Gunung Kursi dan Gunung Semeru.

Ketika Matahari mulai muncul dan kabut perlahan turun (bungakrisan)
Ketika Matahari mulai muncul dan kabut perlahan turun (bungakrisan)
Warna emas yang indah menghiasi pandangan mata (bungakrisan)
Warna emas yang indah menghiasi pandangan mata (bungakrisan)
Dan gunung batok perlahan muncul ketika matahari mulai datang (bungakrisan)
Dan gunung batok perlahan muncul ketika matahari mulai datang (bungakrisan)
Matahari mulai sempurna membangunkan seluruh mahluk bumi (bungakrisan)
Matahari mulai sempurna membangunkan seluruh mahluk bumi (bungakrisan)

Tempat Matahari Terdekat 

Malam yang menggigil, siang yang menyengat.  Di malam hari, suhu rata-rata adalah 5°C dan bahkan bisa kurang dari 0°C.  Siang hari, walaupun suhu rata-rata adalah 22°C, namun padang pasir dan kawah yang bergolak menambahkan hawa panasnya.

Istimewanya, perasaan menyengat akan bertambah karena matahari seakan ada di depan mata.  Bulat sempurna menyinari setiap sudut Gunung Bromo.

Matahari seakan berada di depan mata, bulat dan sempurna (bungakrisan)
Matahari seakan berada di depan mata, bulat dan sempurna (bungakrisan)
Padang pasir dan matahari di depan mata, rasanya seperti melihat lukisan (bungakrisan)
Padang pasir dan matahari di depan mata, rasanya seperti melihat lukisan (bungakrisan)
Semakin siang, matahari semakin naik sempurna (bungakrisan)
Semakin siang, matahari semakin naik sempurna (bungakrisan)

250 Anak Tangga yang Menantang

Sesuatu yang indah memang tidak pernah didapatkan dengan cara yang mudah.  Pun ketika kita ingin menuju bibir kawah Bromo yang suaranya selalu menggelegar itu.  Selain harus melewati padang pasir, berjalan menanjak, kita juga harus melalui 250 tangga untuk sampai ke bibir kawah.  Di saat musim liburan, naik ke tangga ini haruslah mengantri dengan sabar.

Harus melewati padang pasir yang kering untuk menuju tanjakan awal ke tangga kawah (bungakrisan)
Harus melewati padang pasir yang kering untuk menuju tanjakan awal ke tangga kawah (bungakrisan)
Dengan sabar mendaki di tengah panas matahari (bungakrisan)
Dengan sabar mendaki di tengah panas matahari (bungakrisan)
Melewati 250 tangga sambil melihat asap yang muncul dari kawah Bromo (bungakrisan)
Melewati 250 tangga sambil melihat asap yang muncul dari kawah Bromo (bungakrisan)

Gunung diatas Gunung

Walaupun Bromo merupakan gunung api yang masih aktif, di kawasan padang pasirnya terdapat empat gunung yang sudah mati dan tak kalah menakjubkan.  Gunung yang paling terkenal dan sering menjadi icon pariwisata adalah Gunung Batok (2.470 mdpl), Gunung Widodaren (2.650 mdpl) yang puncaknya menjadi tempat pertapaan Suku Tengger, Gunung Kursi (2.581mdpl) dan Gunung Watangan (2.662 mdpl)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Suku Tengger dan Kudanya

Suku Tengger yang tinggal gunung ini, dipercaya sebagai keturunan dari pengungsi Kerajaan Majapahit pada abad ke-16 ketika diserang kerajaan Islam yang dipimpin oleh Raden Patah. Mereka lari dimana sebagian  menuju Pulau Bali dan sebagian lainnya menempati sebuah kawasan pegunungan di Jawa Timur yang kita kenal sebagai Suku Tengger.

Baca juga:

Belajar Berkawan dengan Semesta Alam dari Suku Baduy

Seba Baduy:Titipkan Amanat pada Pemimpinnya

Suku Tengger sendiri percaya bahwa  alkisah seorang putri dari Kerajaan Majapahit bernama Roro Anteng dan putra seorang Brahmana yaitu Joko Seger  menikah dan turut menjadi pengungsi di Pegunungan Tengger. Mereka kemudian menjadi menjadi pemimpin dengan gelar Purbawisesa Mangkurat Ing Tengger  dimana keturunannya  menjadi Suku Tengger.

Suku Tengger setiap harinya bertani, setinggi apapun sekolah mereka.  Selain itu, mereka juga terdampak dari pariwisata kawasan Bromo ini dengan menyewakan jeep dan kuda.  Kuda-kuda itulah yang menjadi ciri khas Suku Tengger.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Hamparan Padang Pasir

Padang pasir dengan luas 5.920 hektar ini merupakan kaldera (bekas letusan Gunung Bromo).  Di hamparan yang terkenal dengan pasir berbisik ini, angin meniupkan pasirnya di tengah-tengah aktivitas manusia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gunung Bromo, aku rindu….. (bungakrisan)

0
Share

Pantai di Gunung Kidul saat ini memang menjadi incaran para turis, namun cobalah sesekali mencoba tantangan lain dengan mendaki Gunung Nglanggeran.  Gunung api purba ini terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul.  Mudahnya, pintu loket menuju gunung ini dekat dengan Bukit Bintang.  Tidak begitu tinggi, sekitar 700 mdpl dan berada pada deretan Pegunungan Baturagung, yaitu pegunungan yang membentang di sisi timur Kabupaten Bantul,  utara Kabupaten Gunungkidul, DIY Yogyakarta dan sebagian di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.

Nglanggeran sangat terkenal sebagai spot untuk melihat matahari terbit dan terbenam.  Yang membuat pengalaman menaiki gunung ini menarik karena batuannya yang didomintasi oleh aglomerat dan breksi gunung api dari letusannya jutaan tahun lalu.  Menurut para peneliti, gunung ini memang awalnya berasal dari gunung api dasar laut yang terangkat dan menjadi daratan.  Hal ini tidak terlepas dari wilayah Gunung Kidul yang jutaan tahun lalu merupakan dasar laut.

Membutuhkan sekitar satu jam untuk mencapai puncak dari tempat loket penjualan tiket.  Dibandingkan dengan gunung-gunung kecil yang lain, Gunung Nglanggeran lumayan bersih dengan sarana dan prasarana pendakian yang membuat wisatawan nyaman.  Penunjuk arah dapat kita temui dimanapun dan tidak akan membuat kita tersesat.  Setiap tempat pandang juga diberi tanda sehingga para pendaki dapat melihat pemandangan yang indah di bawahnya.  Sebelum menuju Pos 1, ada semacam museum replika benda purbakala.  Anak-anak dapat mendaki hanya sampai Pos 1 untuk menikmati museum tersebut.

Sumber mata air yang berada di kaki gunung (bungakrisan)
Pendopo awal tempat dimulainya pendakian (bungakrisan)
Pendopo awal tempat dimulainya pendakian (bungakrisan)
Para orang tua dapat mengajak anaknya melihat replika benda dan fosil purbakala dan beristirahat di pendopo ini (bungakrisan)
Para orang tua dapat mengajak anaknya melihat replika benda dan fosil purbakala dan beristirahat di pendopo ini (bungakrisan)

Baca Juga:

Napak Tilas Situs di Gunung Munara Rumpin

Mendaki Gunung Pancar yang Melelahkan dan Penuh Misteri

Nikmati Pemandangan Waduk Jatiluhur dari Gunung Lembu

Penunjuk jalan dan tempat yang akan memastikan pendaki tidak tersesat saat mendaki (bungakrisan)
Penunjuk jalan dan tempat yang akan memastikan pendaki tidak tersesat saat mendaki (bungakrisan)
Terdapat beberapa warung dan pos peristirahatan untuk tempat singgah para pendaki (bungakrisan)
Terdapat beberapa warung dan pos peristirahatan untuk tempat singgah para pendaki (bungakrisan)

Banyak mitos mengenai Gunung Nglanggeran ini, termasuk salah satunya adalah warga di Dusun Tlogo Mardidho, Nglanggeran Wetan.  Mereka percaya bahwa dusun mereka hanya boleh ditinggali oleh 7 kepala keluarga dan jika ada yang kedelapan, maka akan ada yang meninggal.  Pun bila kurang dari 7, maka akan ada yang terkena penyakit yang menyebabkan kematian.

Pemandangan yang dapat dilihat dari gunung ini sangatlah elok.  Kita dapat melihat kota Yogyakarta, sawah-sawah dan tower-tower stasiun televisi.  Selain itu, juga terlihat embung nglanggeran yang diresmikan pada 19 Februari 2013 oleh Sri Sultan HB ke X.  Embung ini untuk menadah hujan buatan yang airnya digunakan masyarakat untuk pengairan perkebunan buah di wilayah tersebut.

Embung Nglanggeran tampak jelas terlihat di ketinggian (bungakrisan)
Embung Nglanggeran tampak jelas terlihat di ketinggian (bungakrisan)
Pemandangan sawah dan kota Yogyakarta menghiasi perjalanan menuju puncak (bungakrisan)
Pemandangan sawah dan kota Yogyakarta menghiasi perjalanan menuju puncak (bungakrisan)

Selain menyusuri pantai-pantai di Gunung Kidul, Gunung Nglanggeran memang menjadi alternatif yang menarik dan tempat ini memiliki potensi wisata yang besar karena sarana dan prasarananya yang cukup baik (bungakrisan)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

0
Share

“Di balik hutan lindung itu ada tempatnya bidadari mandi,” begitu yang dikatakan seorang tetua menceritakan mengenai Teluk Bidadari.  Secuil nirwana ini memang baru dikunjungi oleh wisatawan selama setahun terakhir setelah terlebih dahulu dibukanya Pantai Banyu Meneng di Bantur, Malang Selatan.  Seorang sesepuh yang berada di Kawasan Pantai Banyu Meneng ini tak henti-hentinya bercerita mengenai tempat mandi bidadari kepada para wisatawan yang berkunjung.  Penasaran, para pengunjung akhirnya berusaha untuk mencapai tempat yang dimaksud sesepuh tersebut.  Menuju kesana tak mudah, selain arahnya tak jelas, untuk menuju ke lokasi Teluk Bidadari harus melewati hutan lindung yang dikelola oleh Perhutani dan mendapatkan ijin terlebih dahulu.  Hutan lindung ini memang sejak lama menjadi pelepasan lutung jawa yang dikonservasi pemerintah.

Masuk ke hutan lindung untuk menuju ke Teluk Bidadari haruslah mendapatkan ijin terlebih dahulu (bungakrisan)
Masuk ke hutan lindung untuk menuju ke Teluk Bidadari haruslah mendapatkan ijin terlebih dahulu (bungakrisan)

Baca juga: Belajar Upaya Penyelamatan Bumi di Penangkaran Elang Loji

Karena banyaknya peminat yang ingin melihat tempat mandi bidadari ini, maka Perhutani bekerjasama dengan masyarakat sekitar yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) memfasilitasi wisatawan untuk berkunjung ke tempat ini.  Setiap grup dengan maksimal 10 orang, harus ditemani oleh seorang guide, anggota dari LMDH.

Teluk ini sendiri sebenarnya berada di Pantai Mbehi, yang merupakan pantai terusan dari Kondang Merak.  Dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk mencapai ke teluk ini, tergantung dari kemampuan setiap orang.  Masuk ke dalam hutan, medannya cukup menanjak dan dibutuhkan fisik yang prima.  Menurut Paiman, salah seorang guide, selain lutung Jawa juga ada binatang lain seperti babi hutan.  Pohon-pohon yang dilalui juga merupakan pohon purba yang sudah ada disitu ratusan bahkan jutaan tahun yang lalu.  Akan sangat jarang bertemu dengan manusia lain disini, kecuali ada rombongan yang berjalan pulang.

Pohon-pohon tua, tinggi dan rindang akan kita temui di dalam hutan lindung tempat pelepasan Lutung Jawa ini (bungakrisan)
Pohon-pohon tua, tinggi dan rindang akan kita temui di dalam hutan lindung tempat pelepasan Lutung Jawa ini (bungakrisan)

Lima menit pertama masuk ke dalam hutan lindung ini, kita akan menemukan kawasan Pantai Kondang Sugu.  Di pantai cantik ini juga dapat kita lihat rawa yang indah melintasi hutan.  Suasananya sepi dan magis serta ombaknya tinggi terutama pada pagi hari.

Kawasan Pantai Kondang Sugu ini dapat kita temui setelah lima menit melintasi hutan (bungakrisan)
Kawasan Pantai Kondang Sugu ini dapat kita temui setelah lima menit melintasi hutan (bungakrisan)

 

Rawa yang indah di seberang Pantai Kondang Sugu menjadi pemandangan yang mengundang kekaguman (bungakrisan)
Rawa yang indah di seberang Pantai Kondang Sugu menjadi pemandangan yang mengundang kekaguman (bungakrisan)

Setelah melewati beberapa rintangan dalam perjalanan di hutan lindung, kita akan masuk ke Kawasan Pantai Mbehi, yang ombaknya lebih besar dari Kondang Sugu dan airnya sangat biru, menandakan kedalamannya.

Jika Kamu sudah menemukan Pantai Mbehi, berarti sudah selangkah lagi menuju teluknya para bidadari (bungakrisan)
Jika Kamu sudah menemukan Pantai Mbehi, berarti sudah selangkah lagi menuju teluknya para bidadari (bungakrisan)

Kita kemudian akan menuju ke ujung pantai dan mendaki karang-karang yang tajam.  Setelah itu, turun dari lokasi karang, sebuah tempat yang indah seperti kolam akan kita temukan.  Kolam tersebut adalah air tawar, dengan pemandangan laut lepas dan suara burung camar yang sesekali memecah kesunyian.  Pantas saja, memang hanya bidadari yang bisa mandi disini karena indahnya.

Bukit karang ini harus dilalui untuk mencapai secuil nirwana, tempat mandi para peri (bungakrisan)
Bukit karang ini harus dilalui untuk mencapai secuil nirwana, tempat mandi para peri (bungakrisan)
Pengunjung awalnya dapat berenang di kolam ini, namun saat ini sudah tidak diperbolehkan (bungakrisan)
Pengunjung awalnya dapat berenang di kolam ini, namun saat ini sudah tidak diperbolehkan (bungakrisan)
Pemandangan laut lepas di kolamnya para peri ini (bungakrisan)
Pemandangan laut lepas di kolamnya para peri ini (bungakrisan)

Setelah menikmati Teluk Bidadari, kita dapat memutar sebentar ke sebelah kanan.  Disana ada karang tajam yang berlubang sehingga apabila ombak tinggi, air akan naik dan memenuhi karang tersebut.  Fenomena alam yang luar biasa yang jarang ditemui di tempat lain.

Lokasi Teluk Bidadari

Teluk ini berada di Kawasan Pantai Kondang Merak, di Desa Bandungrejo, Bantur di wilayah Malang Selatan.  Untuk kesana haruslah membawa kendaraan pribadi yang prima karena lokasinya belum beraspal.  Mudahnya, kita dapat menuju ke Pantai Balekambang, kemudian sebelum gerbang, ada jalan yang belum beraspal.  Jalan itulah yang membawa kita ke Kawasan Pantai Kondang Merak.

Tips

Berikut beberapa tips untuk berwisata ke Teluk Bidadari:

  1. Siapkan fisik dan bawalah minum karena jalan di hutan lindung ini sangatlah menyita energi kita
  2. Setelah tiba di parkiran, coba tanya kepada petugas parkir cara menuju ke Pantai Mbehi.  Maka kita akan diarahkan kepada guide.
  3. Tarif per rombongan dengan maksimal 10 orang adalah Rp. 100.000.  Setiap 10 orang akan disediakan satu guide.
  4. Janganlah terpisah dari rombongan pada saat berjalan.
  5. Jangan berisik dan membuat kegaduhan di dalam hutan karena disini banyak sekali binatang liar yang dapat terganggu dengan kehadiran manusia
  6. Pantai Selatan terkenal dengan mistisnya, karena itu, tetap jaga bicara dan perilaku di setiap perjalanan
  7. Datanglah pagi hari untuk menghindari panas dan laut pasang.

Selamat menikmati keindahan yang tersembunyi ini. (bungakrisan)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

2
Share

Jalan-jalan di bulan puasa?  Mungkinkah?  Biasanya kita pasti menunda rencana jalan-jalan setelah Lebaran karena takut  jika rasa haus dan lapar mendera.  Tak perlu khawatir, destinasi di Jawa Barat patut dicoba. Begini itinerary nya

Menunggu Matahari Terbit di Pantai Kejawanan

Setelah sahur dan sholat subuh, jangan langsung tidur lagi.  Sempatkan untuk melihat cantiknya matahari terbit di Pantai Kejawanan.  Letak pantai ini dekat dengan Pelabuhan Cirebon tepatnya di Jl. Yos Sudarso. Sebelum matahari terbit, sudah banyak orang mendatangi pantai ini.  Selain untuk menikmati matahari terbit, biasanya mereka juga ingin memancing ikan.

Pemandangannya cukup indah berlatar belakang gunung tertinggi di Jawa Barat, yaitu Gunung Ciremai.  Banyak pula kapal-kapal nelayan berlabuh disini mengantarkan pemiliknya kembali ke keluarga setelah mencari nafkah di tengah laut.  Jika sudah agak siang, para pemilik kapal biasanya bersedia mengantarkan wisatawan untuk berkeliling Pantai.

Artikel terkait:

Tidak ada tiket masuk pada dini hari saat mengunjungi pantai ini, hanya memberi tips pada penjaga portal pintu masuk.  Ada yang menarik dari Pantai Kejawanan ini, lumpur di sekitar pantai dipercaya menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti keseleo, pegal linu dan bahkan stroke.  Tak ayal, banyak sekali masyarakat yang datang mencoba terapi lumpur Pantai Kejawan.

Setelah puas menikmati matahari terbit, kembalilah ke hotel untuk beristirahat sebentar.  Karena perjalanan jalan-jalan di bulan puasa ini masihlah panjang.

 

Wisata Keraton Cirebon

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah istirahat, kita dapat melanjutkan perjalanan keliling Kota Cirebon dengan mengunjungi Keraton Kanoman dan Kasepuhan.  Dalam sejarah kesultanan di Cirebon, wilayah ini memang kental dengan corak Islamnya.  Seperti halnya Banten, Cirebon merupakan wilayah yang strategis sebagai jalur pelayaran.

Artikel terkait:

Wisata Sejarah Banten, Cantik namun Terpuruk

Jalan-jalan di bulan Puasa ini bisa kita mulai dengan mendatangi Keraton Kanoman yang dulunya merupakan pusat peradaban Kesultanan Cirebon.  Seperti kebanyakan keraton di Indonesia, terjadi perpecahan yang kemudian membuat keraton di Cirebon menjadi  Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon.

Keraton Kanoman berada di Jl. Winaon, Kampung Kanoman, Kelurahan Lemah Wungkuk, Kecamatan Lemah Wungkuk.  Letaknya tepat di belakang Pasar Kanoman.  Kabar sejarah mengatakan bahwa bangunan pasar ini dulunya dibuat Belanda untuk menyamarkan kebesaran keraton.  Karena lokasinya yang berada di belakang pasar, agak susah masuk ke dalam keraton.  Dengan jalan yang sempit, kita harus melewati orang berjualan, berbelanja dan bahkan harus bertemu dengan becak dan motor.  Jalan masuk dan keluar yang hanya untuk satu mobil ini harus diatur oleh pihak keamanan pasar dan tukang parkir keraton agar tidak saling bertabrakan.

Security pasar yang harus mengatur keluar masuknya mobil agar tidak bertabrakan (bungakrisan)
Security pasar yang harus mengatur keluar masuknya mobil agar tidak bertabrakan (bungakrisan)

Keraton Kanoman ini didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin dan merupakan awal berkembangnya agama Islam di Cirebon.  Di belakang keraton terdapat satu bangunan penting yang bernama Witana yang berasal dari kata “awit ana”.  Bangunan ini adalah bangunan yang pertama dibuat di Keraton Kanoman.  Dalam  witana ada pendopo kayu tempat persemayaman raja sementara waktu itu.

Tempat peninggalan Sunan Gunung Jati di Keraton Kanoman.  Dulunya di depan pendopo ini adalah laut yang saat ini sudah menjadi daratan (bungakrisan)
Bangunan pertama  di Keraton Kanoman. Dulunya di depan pendopo ini adalah laut yang saat ini sudah menjadi daratan (bungakrisan)

Kita juga bisa minta diantarkan masuk ke singgasana Keraton Kanoman yang sering dipakai ritual tahunan Grebek Syawal.

Singgasana Keraton Kanoman yang dibuka pada saat menjalankan ritual tahunan (bungakrisan)
Singgasana Keraton Kanoman yang dibuka pada saat menjalankan ritual tahunan (bungakrisan)

Setelah berjalan-jalan seputar Keraton Kanoman, kita dapat berpindah ke Keraton Kasepuhan yang dulunya bernama Keraton Pakungwati.  Tempat bersejarah ini berada di Jl. Kasepuhan No 43, Kampung Mandalangan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemah Wungkuk, Cirebon, Jawa Barat.

Di depan Keraton Kesepuhan terdapat alun-alun Sangkala Buana yang dulunya menjadi  tempat latihan keprajuritan. Tempat ini juga menjadi pelaksanaan hukuman cambuk bagi rakyat yang melanggar peraturan.

Keraton Kasepuhan yang arsitekturnya mencerminkan budaya   Islam dan Hindu (bungakrisan)
Keraton Kasepuhan yang arsitekturnya mencerminkan budaya Islam dan Hindu (bungakrisan)

Seperti kebanyakan bangunan bersejarah di Cirebon, di kedua keraton tersebut dipasangi piring-piring dari Cina di tembok-temboknya.  Piring-piring ini didapatkan atas persahabatan dengan bangsa Cina yang menjadi pedagang dan melewati Cirebon.

Menelusuri Taman Sari Gua Sunyaragi

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah puas melihat-lihat keraton, jalan-jalan di bulan puasa kita lanjutkan dengan menjelajah di Gua Sunyaragi yang yang lokasinya masih di dalam kota Cirebon, yaitu di Jalan By Pass Brigjen Dharsono.   Sunyaragi merupakan bahasa Sanskerta yaitu “sunga” yang berarti sepi dan “ragi” yang artinya adalah raga.  Dulunya, gua ini digunakan Sultan Cirebon dan keluarganya untuk beristirahat dan berdoa.

Kompleks Taman Sari ini terdiri atas Pesanggrahan dan bangunan gua.  Pada bangunan Pesanggrahan dilengkapi dengan serambi, ruang tidur, kamar mandi, kamar rias dan ruang ibadah . Sedangkan bangunan gua dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air. Bagian luar kompleks memakai batu karang dan awan.

Bagian luar Gua Sunyaragi ditempeli dengan batu karang (bungakrisan)
Bagian luar Gua Sunyaragi ditempeli dengan batu karang (bungakrisan)

Gua Sunyaragi ini dulunya dikelilingi air dan sempat dipakai sebagai benteng pertahanan.  Pada tahun 1978 bangunan ini dirusak Belanda dan diperbaiki pada 1852 dengan arsiteknya dari Cina yaitu Tan Sam Cay, . Arsitek ini kemudian membocorkan rahasia benteng pertahanan Gua Sunyaragi dan kemudian ditangkap dan dibunuh oleh Kesultanan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Menunggu Berbuka di Waduk Setu Patok

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sambil menunggu berbuka, tidak ada salahnya sembari menikmati matahari terbenam di Waduk Setu Patok.  Waduk ini berlokasi di Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon yang dapat ditempuh sekitar 20 menit dari kota.  Gunung ini berlatar belakang Gunung Ciremai yang sangat indah.

Jalan-jalan di bulan puasa diakhiri dengan menikmati keindahan Waduk Setu Patok (bungakrisan)
Jalan-jalan di bulan puasa diakhiri dengan menikmati keindahan Waduk Setu Patok (bungakrisan)

Sambil menikmati matahari terbenam, bawalah minuman dan makanan takjil untuk dinikmati di tepi setu. Setelah puas, kembalilah ke Kota Cirebon untuk menyantap masakan khas Cirebon.  (bungakrisan)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

0
Share

Di tengah Selat Sunda, Gunung Krakatau itu aktif mengeluarkan asap.  Gunung yang tumbuh 6 meter dalam setahun ini mulai muncul permukaan laut sejak 1929 setelah sang ibu meledakkan dirinya selama dua hari dimulai sejak 26 Agustus 1883.  Sang anak yang baru lahir ini tumbuh dari kedalaman laut 180 m dan pada 27 Desember 1927 sampai dengan 15 Januari 1929 dan letupannya menyerupai air mancur yang terus menerus terlihat di permukaan laut.  Aktivitas gunung ini terjadi setiap hari sejak 1992 sampai dengan 2001.  Masa istirahat diperkirakan terjadi 1-8 tahun dan letusannya terjadi 4 tahun sekali.  Tercatat, Gunung Anak Krakatau meletus 16 kali pada Desember 1927-Agutus 1930, 43 kali pada 1931-1960 dan 13 kali pada 1961-2000.

Baca juga:  Belajar Berkawan dengan Semesta Alam dari Suku Baduy

Gunung Anak Krakatau memiliki pasir dan bebetuan hitam (bungakrisan)
Gunung Anak Krakatau memiliki pasir dan bebetuan hitam (bungakrisan)

“Mendingan setiap hari ada gempa kecil, daripada diam trus tiba-tiba meletus,” ujar seorang warga Banten.  Ketakutan ini memang beralasan karena sang gunung yang terus tinggi setiap tahunnya dan juga mengingat bagaimana sang ibu mengubah dunia ketika meletus ratusan tahun lalu.  Letusan Gunung Krakatau kekuatannya 10.000 kali lebih hebat dari bom Hirohima dan Nagasaki (baca juga Jejak Sejarah dalam Mengenang Hiroshima).   Debu dari letusan menembus jarak hingga 90km dimana hamburannya tampak di langit Norwegia dan New York.  Matahari redup dan terjadi tsunami terjadi sampai 40m vertikal.  Benda-benda keras berhamburan sampai ke negara lain seperti wilayah India dan Australia. Korban diperkirakan lebih dari 35.000 jiwa.

Letusan Krakatau adalah yang ketiga terbesar di Indonesia setelah Gunung Toba dan Gunung Tambora.  Namun, pada saat Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat dan ilmu pengetahuan serta teknologi berkembang.  Meletusnya Krakatau merupakan bencana terbesar pertama setelah telegraf bawah laut ditemukan pertama kalinya.  Letusan gunung ini menghilangkan  Gunung Danan dan Perbuwatan yang berada di dekatnya.  Sisa Gunung Krakatau purba menjadi  Pulau Panjang, Pulau Sertung, dan Pulau Rakata besar serta kaldera yang terletak di tengah ketiga pulau tersebut.

Gunung Rakata dan Gunung Krakatau yang berdampingan (bungakrisan)
Gunung Rakata dan Gunung Krakatau yang berdampingan (bungakrisan)

Letusan Gunung di Indonesia yang dampaknya sangat besar memang banyak mengubah dunia.  Sebutlah bagaimana meletusnya Gunung Tambora membuat terciptanya roda dan tokoh Frankenstein.  Begitu pula dengan Gunung Krakatau.  Andai Krakatau tidak meletus saat itu, apa yang terjadi?

1.Eropa Tidak Pernah Memasuki Era “Dark Age” 

Letusan Krakatau dikabarkan membuat perubahan iklim dunia.  Dunia gelap karena debu menutupi atmosfer dan suhu di dunia juga turun beberapa derajat.  Lalu apa hubungannya dengan Dark Age atau Masa Kegelapan di Eropa?  Rupanya, kondisi perubahan iklim inilah yang kemudian menyebabkan wabah penyakit menjangkit dan panen gagal dimana-dimana.  Dengan kelaparan dan kemiskinan yang diderita, Kaum Barbar yang memang memiliki ambisi untuk menguasai kekayaan Kerajaan Romawi memanfaatkan kondisi tersebut dengan bermigrasi dan menyerang berbagai lini.

2.  Edvard Munch Tidak Akan Melahirkan Karya “The Sream”

Seniman Norwegia, Edvard Munch terkenal dengan lukisannya “The Scream” yang saat ini tersimpan di National Gallery, Oslo, Norwegia.  Lukisan yang merupakan salah satu lukisan termahal di dunia ini terinspirasi dari letusan Krakatau.  Warna langit yang berwarna merah merupakan gambaran dari dampak letusan Krakatau.  Dapat dibayangkan, letusan terse but membuat langit di Eropa berwarna merah terang, layaknya kiamat kecil.

3.  Kamu Tidak Bisa Bergaya dengan Stone-Washed Jeans.  

Jeans ini dicuci ke dalam mesin cuci khusus bersamaan dengan batu apung sehingga mendapatkan efek fading yang khas.  Letusan Krakatau menghasilkan batu apung yang menyebar ke berbagai penjuru termasuk melintasi  Pasifik ke Hawai.  Batu tersebut kemudian digunakan untuk membuat stone-washed jeans Levis.

4.  Pulau Sumatera Tidak Ada

Sebuah teks Jawa Kuno berjudul “Pustaka Raja Parwa” menggambarkan keadaan pada saat itu.  Dalam teksnya mengatakan  “Ketika air meneggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatra”.  Jawa dulunya menjadi satu, dan karena letusan Krakatau maka terciptalah Pulau Sumatera dan Selat Sunda.

5.  Lengkapnya Sejarah Kerajaan Jawa dan Sumatera

Karena letusan maha dahsyat ini, terjadi “missing link” kesenjangan sejarah selama 100-200 tahun, khususnya kerajaan-kerajaan Jawa dan Sumatera.  (bungakrisan)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

0
Share

Ketika musim penghujan yang dingin tiba, mengkonsumsi sup ikan di Kota Serang, Banten memang membantu tubuh kita menjadi hangat.  Kamu bisa memesan sup ini di sebuah restauran yang letaknya di tengah kota, tepatnya dekat dengan alun-alun Serang Timur.  Rumah Makan Taktakan ini memang sudah lekat dengan masyarakat Serang sejak belasan tahun yang lalu.  Resepnya turun temurun terinspirasi dari masakan Papua dan Aceh.

Baca juga: Pecak Bandeng yang pas di Mulut

Berbeda dengan sup ikan Batam, Rumah Makan Taktakan menggunakan ikan kuwe yang dimasak sampai empuk dengan diberi tomat hijau, daun kemangi, serta cabe hijau yang jumlahnya sangat banyak.  Sup ikan yang panas tersebut kemudian diberi lada yang rasanya sangat tajam.  Kombinasi tersebut membuat sup ini menjadi hangat dan pedas, sangat cocok dimakan pada saat hujan turun dan dingin mendera.  Hidangan ini juga dilengkapi dengan acar yang dicampur dengan nanas untuk menambah keasamannya.  Kombinasi yang lengkap ini membuat kita tambah bernafsu untuk menghabiskan makanan yang tersaji di meja.  Satu porsi besar dibandrol dengan harga Rp. 120 ribu, namun kita bisa membeli dengan setengah harga.  Satu porsi sup ikan dapat disantap oleh 3-4 orang.

Satu porsi sup ikan dapat dinikmati oleh 3-4 orang (bungakrisan)
Satu porsi sup ikan dapat dinikmati oleh 3-4 orang (bungakrisan)

Selain itu, rumah makan ini juga menyajikan sup kepala ikan, sup sea food dan berbagai makanan berkuah yang lain.  Namun ada juga makanan khas Serang seperti sate bandeng.   Bagi yang sudah pernah ke Serang, pasti mengenal masakan yang enak ini.  Cerita yang melegenda, tamu-tamu Kerajaan Kesultanan Banten disuguhi makanan ini sebagai kehormatan (baca juga: Wisata Sejarah Banten, Cantik namn Terpuruk).

Sate Bandeng yang dulu menjadi jamuan bagi tamu Kesultanan Banten (bungakrisan)
Sate Bandeng yang dulu menjadi jamuan bagi tamu Kesultanan Banten (bungakrisan)

Sate ini terbilang lumayan susah untuk dibuat.  Layaknya ayam kodok, daging ikan bandeng dikeluarkan dari ikan kemudian dihaluskan tanpa merusak kulitnya.  Duri-duri pun dikeluarkan agar tidak mengganggu orang yang memakannya.  Setelah itu, daging disangrai dan dicampur dengan kelapa dan bumbu-bumbu kemudian dimasukkan kembali ek dalam kulit setelah diberi telur dan santan.  Setelah tercampur, bandeng tersebut dimasukkan ke dalam daun pisang dan dibakar.  Cukup rumit bukan pembuatannya?

Belum ke Serang memang jika tidak mencoba hidangan di rumah makan ini.  Apakah kamu tertarik untuk mencobanya?  (bungakrisan)

IMG_5247

 

0
Share

Seba Baduy dimaknai juga sebagai silaturahmi.  Tradisi ini telah dijalankan masyarakat Baduy atau yang biasa disebut dengan Urang Kanekes sejak ratusan tahun lalu, yaitu pada jaman Kesultanan Banten.  Pada jaman kerajaan, masyarakat memang biasanya menghadap raja sambil membawa upeti.  Masyarakat Baduy berbeda, mereka menyebutnya dengan oleh-oleh sembari menitipkan amanat pada pemimpinnya.  Amanat tersebut adalah aspirasi yang biasanya berupa tiga pesan, yaitu menjalin komunikasi dan silaturahmi, mendorong pemimpin untuk berbuat adil dan menjaga kelestarian alam.

Baca juga:

Belajar Berkawan dengan Semesta Alam dari Suku Baduy

Wisata Sejarah Banten, Cantik namun Terpuruk

Tradisi ratusan tahun ini biasanya dimulai dengan puasa selama tiga bulan yang dinamakan dengan Kawalu.  Selama tiga bulan penuh, tidak ada orang luar yang diperbolehkan masuk ke wilayah Suku Baduy Dalam.  Dalam jangka waktu tiga bulan tersebut, selain berpuasa, mereka menjalankan ritual adat untuk mendapatkan pesan mengenai seba yang akan dilakukan.  Tahun ini seba yang dilakukan adalah besar, yang diikuti cukup banyak masyarakat Baduy, yaitu 1.658 dan selain hasil bumi juga peralatan masak menjadi oleh-oleh bagi Bapak/Ibu Gede, begitu mereka menyebut pemimpinnya.  Dalam dunia modern ini, pemimpin yang dimaksud adalah Gubernur Banten dan Presiden Republik Indonesia.  Ritual Seba dilakukan di Pendopo Lama Gubernuran.  Perwakilan Suku Baduy dalam dikabarkan juga menuju istana presiden untuk membawa oleh-oleh tersebut.

Sebanyak 1.658 orang yang membawa oleh-oleh ke Bapak Gede tersebut, berasal dari tiga kampung dimana sekitar 83 orang adalah Suku Baduy Dalam dan yang lainnya adalah Suku Baduy Luar.  Saat ini terdapat 63 kampung yang ditempati  lebih dari 11.000 Suku Baduy dimana Suku Baduy Dalam menempati 3 kampung.

Pada ritual ini, Suku Baduy Dalam jalan pada malam harinya, sedangkan Suku Baduy Luar naik kendaraan sampai ke GOR Ciceri Kota Serang.  Dari sini, keduanya bertemu dan berjalan sekitar 6 km ke Pendopo Gubernuran.  Mereka terdiri dari orang tua maupun anak-anak, namun tidak ada perempuan yang ikut dalam rombongan.  “Ini memang acaranya para laki-laki,” ujar Mul, masyarakat Baduy Luar sambil tersenyum.

Masyarakat Baduy berjalan menuju Pendopo Gubernur dalam ritual Sebay Baduy (bungakrisan)
Masyarakat Baduy berjalan menuju Pendopo Gubernur dalam ritual Sebay Baduy (bungakrisan)

Ritual Seba Baduy disambut dengan meriah oleh tari-tarian dan hiburan lainnya di Pendopo Gubernur.  Mereka yang pertama kalinya mengikuti acara ini, langsung menuju ke belakang pendopo untuk didoakan dan mandi di sungai.  “Ceritanya, dulu ratu disini adalah Suku Baduy dan mandinya di sungai itu.  Tetapi sekali lagi, di masyarakat kami, tuturnya lisan dan bukan tutur tulisan.” Jelas Mul kembali.

Mereka yang baru pertama kali mengikuti Seba Baduy mengantri untuk didoakan dan mandi di sungai belakang pendopo ini (bungakrisan)
Mereka yang baru pertama kali mengikuti Seba Baduy mengantri untuk didoakan dan mandi di sungai belakang pendopo ini (bungakrisan)

Acara dimulai sekitar Pk.20.00 WIB, dengan bacaan mantra Sunda.  Dibacakan pula sekali lagi pepatah dari Suku Baduy…

Lojor teu meunang dipotong

Pendek teu meunang disambung

Kurang teu meunang ditambah

Leuwih teu meunang dikurang

Yang juga berarti bahwa hidup itu apa adanya yang diberikan Tuhan, tidak boleh ditambah maupun dikurang.  Dalam arti pula bahwa kita harus menjaga keseimbangan alam.

Jaro Tanggungan 12 Saidi Putra yang menjadi perwakilan dari Suku Baduy menyampaikan pesan kepada Bapak Gede untuk menjaga kelestarian alam, terutama gunung-gunung di sekitar mereka tinggal.  Kemudian diserahkan pula laksa, yaitu olahan padi terbaik dari Suku Baduy kepada Pejabat Banten, Nata Irawan.

Perwakilan Suku Baduy menyampaikan amanatnya kepada pemimpin Banten (bungakrisan)
Perwakilan Suku Baduy menyampaikan amanatnya kepada pemimpin Banten (bungakrisan)
Pemberian laksa kepada Pejabat Banten (bungakrisan)
Pemberian laksa kepada Pejabat Banten (bungakrisan)

Sayangnya, ritual tiap tahun ini hanyalah sekedar ritual.  Acaranya ini hanya diharapkan dapat meningkatkan gairah wisata, tidak lebih.  Tidak ada penyampaian apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin untuk melaksanakan amanat dari Suku Baduy.  Padahal, penyampaian amanat ini dilakukan secara serius oleh Suku Baduy, mulai dari puasa, menyiapkan hasil bumi terbaik sampai berjalan berkilo-kilo untuk bertemu “raja” nya.

Cerita Lucu dari Seba Baduy

Kita semua mengetahui bahwa Suku Baduy, terutama Suku Baduy Dalam menolak untuk dipengaruhi budaya luar, terutama modernisasi.  Kesempatan “keluar” ini biasanya dilakukan pada saat Seba Baduy maupun jika mereka menjual madu ke kenalan di Jakarta.

Salah satu kesempatan langka ini dimanfaatkan beberapa Suku Baduy Luar untuk mampir ke Ramayana, pertokoan yang berada di dekat Pendopo.  Mereka melihat-lihat barang-barang yang dijual walaupun tidak membelinya.  Beberapa diantara mereka mencoba eskalator.  Tentu saja tingkah laku mereka yang unik ini mengundang senyum yang melihatnya.  Suku Baduy Dalam memang sangat teguh untuk memegang tradisi mereka.  Mereka berkelompok dan hanya diam sambil duduk beristirahat.

Asmin, Suku Baduy Dalam yang mengundang perhatian (bungakrisan)
Asmin, Suku Baduy Dalam yang mengundang perhatian (bungakrisan)

Namun, salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah seorang Suku Baduy Dalam yang wajahnya sangat tampan.  Asmin, begitu namanya, adalah bapak tiga anak.  Ia duduk di barisan paling depan dan segera mengundang para wartawan untuk mengabadikan paras tampannya tersebut dengan kamera.  Kulitnya putih bersih, kenyal dan halus seperti kulit bayi.  Hidung mancung dengan postur tubuh yang tinggi.  Padahal, Asmin adalah petani, seperti juga Suku Baduy lainnya, yang berada di kebun setiap hari.  Suku Baduy Dalam juga tidak menggunakan bahan-bahan kimia dan makanan mereka alami, organik alam.  Tidak heran jika Asmin mendapat perhatian dari seluruh tamu saat itu.  Namun jika dilihat dengan seksama, Suku Baduy Dalam memang memiliki fisik yang berbeda.  Hidung mereka mancung dengan kulit putih yang bersih dan bersinar.  Selain mungkin menjaga dari sentuhan produk kimia, hidup yang benar dan teratur, mereka adalah orang-orang yang jauh dari kejahatan.  Aura kebaikan terpancar dari wajah mereka yang membuatnya bersinar.( bungakrisan)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

0
Share

Dimana ya bisa belanja oleh-oleh di Tokyo dengan uang yang pas-pas an?  Pasti itulah yang ada di pikiranmu ketika sedang travelling ke Jepang.  Maklum, biaya hidup di Jepang sangatlah tinggi, membuat kita berfikir apalagi kalau harus beli suvenir untuk teman dan saudara yang pasti sudah menunggu oleh-oleh.  Jangan takut, coba belanja di tempat-tempat ini, harganya cukup terjangkau kok…

Ameyoko,Ueno

Di Ameyoko inilah surga belanja oleh-oleh di Tokyo dengan harga paling terjangkau (bungakrisan)
Di Ameyoko inilah surga belanja oleh-oleh di Tokyo dengan harga paling terjangkau (bungakrisan)

Ameyoko ini kependekan dari Ameya Yokocho, yang artinya toko permen.  Kenapa demikian, karena penjualnya sangat senang berdiri di depan toko dan berteriak-teriak kepada konsumennya menawarkan barang dagangannya dengan kata-kata yang manis.  Jadi jangan kaget ya kalau dating kesini diteriakin pedagang, mereka tidak marah tentunya, justru mengundang kita untuk masuk tokonya.

Dibandingkan dengan area belanja yang lain, disinilah yang paling murah.  Hampir semua barang ada disini, mulai dari baju, sepatu, tas, gantungan kunci, topi, koper, makanan, obat-obatan, kosmetik dan masih banyak lagi.  Tas Anello yang dijual di toko lain sekitar 4.200 yen, disini bisa dibeli dengan harga 3.300-3800 yen, tergantung cara kita menawar.  Disini juga bisa beli makanan khas Jepang seperti rumput laut.  Namun, jika tidak mau repot, makanan bisa dibeli di bandara. Walaupun sedikit lebih mahal daripada di Ameyoko, tetapi sama harganya dengan toko lain di Tokyo.

Cara ke Ameyoko: Exit 5B dari Stasiun Ueno

Baca juga: 10 Tempat Menikmati Sakura di Jepang

Nakamise Street

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Nakamise street atau Nakamise dori terletak di belakang Sensoji temple.  Jadi biasanya setelah mengunjungi Sensoji Temple, kita dapat berbelanja disini. Harganya lebih mahal dari Ameyoko, tetapi variasi pernik-perniknya lebih banyak.  Kita juga  bisa membeli rice crackers yang dibuat home made.

Cara ke Nakamise street : Jalan 5 menit dari stasiun Asakusa

Kapabashi Street

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Buat kamu yang suka memasak ataupun membuat kue, disinilah tempatnya.  Kamu akan mendapatkan peralatan memasak yang lucu ataupun cetakan kue yang tidak dapat kamu temukan di Indonesia.  Selain itu, disini juga tempatnya kalau kamu ingin membeli replika makanan-makanan Jepang.  Walaupun lebih mahal dari tempat lain, tetapi disini barangnya lebih bagus dan bentuknya juga lebih indah. 

Cara ke Kapabashi Street: Jalan 10 menit dari Stasiun Tawaramachi

Takeshita-dori

Shopping 11

Tempatnya di Harajuku, tentu saja toko-toko di Takeshita dori ini menjual baju, sepatu dan tas yang sedang tren, terutama buat anak muda.

Cara ke Takeshita-dori: jalan 5 menit dari Meijijingu-mae station

 

0
Share